Ujian Merupakan Bagian Proses Pembelajaran yang Dilaksanakan Guru sebagai Ujung Keberhasilan Proses Pembelajaran Jenjang Pendidikan.

oleh -3 views

Infoindonesianews.com – Kamis, 1 April 2021

Dadang A. Sapardan
(Kabid Kurikulum & Bahasa, Disdik Kab. Bandung Barat)

BANDUNG BARAT – Beberapa waktu yang lalu, sempat ngobrol ringan dengan beberapa guru. Dalam obrolan terungkap tentang kesangsian para guru yang terkait dengan penyiapan soal untuk melaksanakan ujian sekolah. Timbulnya kesangsian diakibatkan oleh perubahan mendasar terkait pelaksanaannya. Beberapa tahun sebelumnya, pelaksanaan ujian sekolah selalu menyandarkan diri pada kebijakan dari Kemendikbud yang ditindaklanjuti secara teknis dengan kebijakan dinas pendidikan provinsi dan kabupaten / kota. Kali ini, ujian sekolah diserahkan pada sekolah dengan guru sebagai ujung tombaknya. Efek dari penetapan kebijakan ini adalah yang diperlukannya kepiawaian guru dalam penyusunan soal ujian sekolah.

Ujian merupakan bagian dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru sebagai ujung atau hilir proses pembelajaran pada setiap jenjang satuan pendidikan. Setiap jenjang pendidikan — SD / MI, SMP / MTs / SMA / MA, adan SMK / MAK — harus menyelenggarakan sekolah menjelang berakhirnya siswa melaksanakan pembelajaran. Ujian merupakan wilayah esensial dalam proses pembelajaran, karena di sana dapat dilihat tentang informasi antara proses pembelajaran yang telah dilaksanakannya dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Lewat standar pelaksanaan ujian tersebut akan berdasarkan berdasarkan yang telah ditentukan sebelumnya. Standar individu yang digunakan untuk menentukan simpulan mengacu pada standar kompetensi lulusan (SKL) yang secara teknis diimplementasikan oleh setiap guru pengampu mata pelajaran dalam bentuk angka capaian minimal.

Hingga saat ini, dalam penyediaan tidak sedikit soal yang disusun guru belum sebuah soal yang benar-benar mengacu pada penyusunannya. Tampilan soal demikian, tidak menutup kemungkinan melahirkan kerepotan siswa untuk dapat menafsirkan isi soal, sehingga siswa membutuhkan energi ekstra untuk dapat menafsirkannya. Saat menghadapi soal demikian, para siswa tidak saja harus memutar otak untuk dapat menemukan jawabannya, tetapi harus pula memutar otak pula untuk menafsirkan maksud soal yang dihadapinya.
Penulisan soal — apalagi penuliasan soal yang akan dilayani dalam pelaksanaan ujian — kegiatan yang sangat. Penulisan soal yang baik akan melahirkan performa soal yang benar-benar sahih sebagai alat ukur terhadap capaian standar.

Untuk pelaksanaan ujian sekolah, kecenderungan lebih mengarah pada pilihan memberikan soal dalam bentuk pilihan ganda. Terkait dengan soal pilihan ganda terdapat beberapa ketentuan yang harus dijadikan landasan oleh setiap pembuatnya.
1. Pokok soal atau stem harus dirumuskan dengan jelas;
2. Jawaban alternatif harus homogen, baik dari segi materi maupun panjang pendeknya;
Setiap soal hanya memiliki satu jawaban benar atau paling benar;
3. Pokok soal jangan menggunakan pernyataan yang bersifat negatif;
4. Jawaban alternatif harus logis dan pengecoh atau distraktor diupayakan mirip dengan jawaban yang benar;
5. Jika jawaban alternatif dalam bentuk angka, harus disusun secara hierarki, dari yang terbaik hingga yang terbesar;
6. Pokok soal dan alternatif jawabannya merupakan penyataan yang benar-benar diperlukan;
7. Jangan sampai menggunakan alternatif jawaban yang semua jawaban benar atau semua jawaban salah.
8. Pokok soal tidak menggunakan kata yang tidak jelas maknanya, sehingga pembaca tafsiran soal tidak beragam;
9. Soal yang satu tidak bergantung pada soal lainnya, sehingga soal memiliki otonomi masing-masing;
10. Soal jangan memberi petunjuk terhadap jawaban atas soal lainnya;
11. Jumlah alternatif jawaban harus sama;
12. Jawaban yang benar-benar harus populer dan acak, sehingga jawaban tidak sistematis.

Soal dalam bentuk uraian pun menjadi menjadi alternatif yang dipilih, walaupun secara kuantitas, pesanan lebih sedikit dari soal pilihan ganda. Sejalan dengan ketentuan dalam ketentuan bentuk pilihan ganda, siap pakai uraian pun memiliki ketentuan pula.
1. Soal harus sesuai dengan indikator yang terungkap di dalam kisi-kisi;
2. Ruang lingkup atau batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan harus jelas;
3. Rumusan kalimat soal atau pertanyaannya menggunakan kata tanya atau perintah;
4. Tersusun dengan menggunakan kalimat yang komunikatif sehingga tidak menimbulkan salah penafsiran;
5. Petunjuk pengerjaan soal harus disusun secara jelas;
6. Setelah soal selesai ditulis, penyekoran soal pun harus pula disusun; dan
7. Hal lain yang menyertai soal, seperti tabel, gambar, grafik, dan lain-lain harus dibuat dengan jelas dan dapat terbaca.

Setiap guru yang menulis soal siap untuk memahami pula beberapa kaidah bahasa dalam penyusunannya. Sandaran pada kaidah ini diperlukan agar soal yang dibuat menjadi bentuk yang efektif sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahaminya.
1. Pokok soal selalu diawali oleh huruf kapital.
2. Alternatif jawaban diawali dengan huruf kapital, jika pokok soal diakhiri oleh tanda tanya (?) Atau tanda seru (!). Selain itu, ketentuan ini pun berlaku jika jawaban jawaban berbentuk kalimat, peribahasa, atau tema suatu bacaan.
3. Huruf kecil selalu digunakan pada jawaban awal alternatif, kecuali dalam ketentuan seperti bisnis di atas.
4. Tanda tanya (?) Letakan untuk mengakhiri soal dalam bentuk kalimat tanya.
5. Tanda seru (!) Dipakai untuk mengakhiri soal dalam bentuk kalimat perintah.
6. Tanda titik (.) Digunakan pada akhir jawaban alternatif, jika jawaban alternatif berbentuk kalimat, jawaban jawaban berbentuk peribahasa, atau pokok soal diakhiri oleh tanda tanya (?) Atau tanda seru (!).
7. Tanda titik (.) Pada akhir soal pernyataan dalam bentuk pernyataan 4 buah.
8. Tanda titik (.) Dalam bagian tengah kalimat yang dilesapkan 3 buah.
9. Tulisan italic atau bold digunakan pada nama terbitan, kontrol terhadap kata atau frasa tertentu, dimasukkan kata, dan diberhentikan oleh kata sebab untuk soal hubungan antarhal.
10.Tanda koma (,) digunakan sebelum kata kata kecuali pada soal hubungan antarhal.

Dalam penyusunan soal — terutama soal ujian sekolah — para guru yang ditugasi untuk menyusunnya harus benar-benar menyusun prosedurnya. Upaya ini harus dilakukan agar soal yang diberikan sahih dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai alat eksplorasi tingkat kompetensi siswa.

Alhasil, semua yang dipaparkan hanyalah sebatas teori, sebab semua berpulang kembali pada guru sebagai penulis ujian pelaksanaan atau pemeriksaan lainnya. ****

Narasumber : Disdikkbb. Pewarta: DasARSS,Iinews Jabar. Editor Red : Liesna Ega, Sekum IINews .