Saat HUT INALUM Ke- 46, Diduga Humas PT Inalum Injak Martabat Warga lokal dan Usir para Wartawan Jurnalis

oleh -337 views

Infoindonesianews.com | Jum’at, 7 Januari 2022.

BATUBARA | Bersinergi, tumbuh, tangguh yang merupakan slogan peringatan hari ulang tahun (HUT) PT Indonesia Asahan aluminium (Persero) ke-46 dinilai tak berjalan bijaksana.

Pasalnya, perayaan HUT yang digelar di gedung aula megah milik PT Inalum ini, dianggap memberikan kesan menghinjak-hinjak harkat dan martabat masyarakat lokal.

Karena adanya dugaaan perlakuan humas PT Inalum dengan sangat tidak humanis mengusir dan melarang wartawan kampung meliput akivitas HUT Inalum di aula yang berisikan kumpulan masyarakat kaya di aula Inalum.

Hal tersebut diungkapkan olah salah seorang pemuda lokal di Kuala Tanjung, Muhammad Ariffin Efendi, bahwa perlakuan oknum Humas PT Inalum tersebut tidak menunjukan citra baik tentang BUMN untuk mencapai Indonesia yang Tangguh, Indonesia Tumbuh dan indonesia tangguh, sebagaimana dalam tema HUT PT Inalum yang ke 46 Tahun di Indonesia.

“Sebenarnya 46 PT Inalum ini buat siapa? yang diundang justru elit-elit masyarakat dan pejabat, elit-elit pelaku industri dan hampir tidak ditemukan adanya kursi-kursi buat perwakilan bagi masyarakat miskin dan para pencari kerja atau pengangguran di acara itu, bahkan wartawan kampung yang ingin meliput di acara orang orang kaya itu, justru di usir dan dilarang masuk” Kata Muhammad Arifin Efendy dalam keterangannya pada kamis (07/01/2022)

“Ini artinya, hut ke 46 tahun Inalum pada tahun ini hanya diperuntukkan bagi kehidupan orang-orang kaya yang penuh kemewahan, dan ini akan terasa sangat menyakitkan buat dipertontonkan kepada kehidupan 50 ribuan orang miskin di Batu Bara,” kata Arifin.

“Disana yang dipertontonkan hanya kisah tentang masyarakat kaya yang dihibur oleh para artis-artis papan atas. perwakilan orang miskin justru absen dan tidak diberikan kursi.”

“Dan lebih mirisnya lagi, ada pula larangan khusus kepada wartawan kampung untuk meliput kegiatan HUT Inalum tersebut. Akan tetapi wartawan Antara milik BUMN, justru diistimewakn oleh pihak Humas Inalum. “Tetapi beberapa wartawan kampung di Batu Bara, justru dilarang masuk untuk meliput acara yang berisikan orang-orang kaya itu, tak hanya dilarang meliput, wartawan kampung sampai diusir hingga dikeluarkan dari aula,”kata Arifin.

Larangan meliput itu dilakukan oleh salah seorang staf humas PT Inalum yang diketahui bernama Gilang Sukma. “Humas Inalum atas nama Gilang Sukma yang mengusir dan mengeluarkan wartawan kampung di acara HUT Inalum ini, menunjukan bukti bahwa ada harkat dan martabat masyarakat lokal kami yang kini telah dihinjak-hinjak dan dihinakan,”ucap Arif

“Dipanggilnya satu persatu wartawan kamoung itu, kemudian dibawanya keluar sampai ke pintu. Dan pintu langsung ditutup, tak dikasi nya wartawan kampung masuk, tapi wartawan nasional seperti Antara diistimewakan, ini menunjukan bukti ada harkat dan martabat masyarakat lokal kita yang telah dihinjak-hinjak oleh petugas Humas Inalum yang sangat tidak humanis,” ujar Arifin

Selama 3 bulan terakhir ini Arifin mengaku, memang Perlakuan petugas humas Inalum atas nama Gilang Sukma tersebut dapat dianggap memang kurang ramah ke masyarakat dan pemuda lokal, yang norak dengan gaya metropolitan. “Bahkan disisi lain kadang lidahnya itu mudah menyakiti hati masyarakat kampung seperti kali ini. Dan memang tak bisa jaga citra perusahaan, cara bicaranya angkuh dan kadang menghasut di mengunjing kami di belakang, intinya tak bisa menerapkan pepatah “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung di kampung kami dimana disini tempat dia mencari makan ,”katanya

Oleh sebab itu, Arifin Efendi mengingatkan kepada Direktur Operasional PT Inalum agar tidak mempertahankan Gilang Sukma di Humas PT Inalum. Arifin kemudian mengatakan jika perusahaan Inalum mempertahan kan Gilang Sukma di Humas Inalum” kami akan anggap Direktur perusahaan telah membiarkan harkat dan martabat kami sebagai anak lokal dihinjak-hinjak, dan tentu kami sebagai anak lokal tidak akan tinggal diam, dia wajib keluar dari kampung kami,” tegasnya.

“Jika tidak segera dikeluarkan Gilang Sukma tersebut dari pabrik Inalum, kami menganggap Direktur perusahaan sama saja telah membiarkan harkat dan martabat kami sebagai anak lokal dipijak-pijak, kami akan gelar aksi dan mosi tidak percaya kepada Direktur yang selama ini bekerja dan mencari makan di kampung kami” tandas Arifin Efendi**

Narasumber : MS
Editor Red : Liesna Ega 💻. Pewarta : Syafi’i Kuala Tanjung.