Rusaknya Pura Argapura, Kapolsek Lingsar Bersama Muspika Laksanakan Rakord di Aula Kantor Camat Lingsar

oleh -42 views

infoindonesianews.com

Lombok Barat – Kapolsek Lingsar jajaran Polresta Mataram melaksanakan Rapat Kordinasi di Aula Kantor Camat Lingsar tentang pengerusakan Pura Argapura serta mediasi keberadaan Pura Argapura yang bertempat di Desa Giri Madia Dusun Awang Madia Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat, Pada Rabu (27/07).

Kegiatan di buka oleh penyampaian Kasi Trantib Camat Lingsar dengan menyampaikan kehadiran kita bersama saat ini dalam rangka mediasi keberadaan pura Argapura yg di duga berada di antara wilayah Karang Bayan dan Girimadia.

Kemudian dilanjutkan dengan Camat lingsar untuk menyampaikan arahan yaitu, Salah satu nikmat yg sangat luar biasa yaitu terjalinnya toleransi antar umat beragama, dan toleransi di wilayah kita selama ini telah menjadi sebuah motivasi dan reverensi di wilayah Lobar bahkan telah menjadi sumber PAD, namun beberapa waktu yg lalu kita di uji sehingga keamanan serta stabilitas ibadah tidak bisa di serahkan saja kepada pemerintah saja sehingga di perlukan koordinasi antar instansi melalui pertemuan ini,” jelas Marjuqi, S. Ap.

Melelui kesempatan ini juga, kami mengucapkan terima kasih kepada kades dasan geria yg telah menyampaikan informasi dugaan pengerusakan yang terjadi terhadap fasilitas Pura Argapura. Dan kita berkumpul di tempat untuk mencari solusi, saran dan strategi bersama dalam menjaga rasa toleransi yg telah berjalan.

Turut hadir dalam melaksanakan kegiatan tersebut yaitu : Kapolsek Lingsar Iptu I Ketut Artana, SH, Camat Lingsar Marzuki, S. Ap., Danposramil Lingsar Pelda Budi Sujarwo, Kanit IK Polsek Lingsar Aipda Agus Basuki Rahmat, Kasi Trantib Camat Lingsar Junaidi, Kasi Ekbang Camat Lingsar Rina Ilmilda, Edi Rismiadi KPH Rinjari Barat, Kades Girimadia Samiudin, Kades Langko Mawardi, Kades Dasan Geria M. Nawakomtaresa dan sekitar 15 Orang tamu undangan yang terdiri dari para Babinkamtibmas dan Babinsa serta perwakilan Krama Pura Siwa Gangga dan tokoh masyarakat.

Pada kesempatan itu juga Kapolsek Lingsar, Iptu I Ketut Artana, SH., menyampaikan,” bahwa permasalahan ini sangat sensitif, kita tau di wilayah kita toleransinya telah menjadi contoh wilayah lain, karena semua perbedaan merupakan sesuatu yg sangat indah,” tuturnya.

“Lanjutnya, Artana bersyukur kehadiran kita di sini adalah sebuah bentuk wujud keindahan itu, karena keharmonisan antar umat beragama di wilayah lingsar masih tetap terjalin, sehingga melalui kesempatan ini mari kita manfaatkan sebagai sarana untuk mencari solusi yg terbaik bersama.

Sehingga apapun yg kita putuskan di forum ini nanti akan menjadi dasar kita bersama kedepan untuk mengeratkan hubungan antar umat.

Terkait hal itu melalui kesempatan ini, saya mohon petunjuk karena saya masih baru di sini, kita di sini tidak mencari masalah tapi mencari solusi yg tepat melalui jalannya kegiatan ini, agar kita bisa memperoleh kesimpulan bersama,” Ucap Kapolsek Lingsar.

“Kemudian selankutnya Kades girimadia juga menyampaikan, keberadaan pura tersebut sudah lama, pada awalnya kami buta selaku pemilik wilayah karena tidak pernah ke lokasi, namun kami memperoleh informasi dari kades Dasan Geria terkait dugaan pengerusakan yang terjadi bhw sebelumnya pokdarwis dan mahasiswa serta kehutanan yang telah mendatangi lokasi menemukan fasilitas pura dalam kondisi telah di rusak.

Perlu saya ceritakan dua minggu sebelumnya saya mendapatkan postingan gambar pura tsb. sudah berdiri dalam kondisi bagus namun selanjutnya pada hari minggu pagi tiba-tiba pura tersebut di duga dalam kondisi di rusak, saya selaku pemangku wilayah atas kejadian tsb. merasa keberatan akan timbulnya asumsi kami yg terdekat sebagai pelaku pengerusakan tsb.

Sikap kami dari Girimadia sangat menyayangkan apa yang terjadi, di wilayah kami hubungan antar umat beragama tidak pernah timbul gesekan namun berjalan harmonis selama ini, sehingga untuk itu mari kita kedepankan toleransi, yg tidak hanya di ucapkan tapi di praktikkan dengan saling menghormati, dan masalah ini tidak akan terselesaikan apabila warganya yang berkepentingan langsung dengan fasilitas pura tsb. tidak turut menghadiri forum ini.

Selanjutnya Kades Dasan geria menyampaikan kita sama-sama mengetahui bahwa sesuai aturan di kawasan hutan lindung tidak di perbolehkan adanya bangunan permanen, sederhananya juga surat keputusan bersama dari kementrian masih bersifat bias.

Sehingga alangkah baikknya kita mendengar pernyataan pihak kehutanan terlebih dahulu agar apa yang di sampaikannya nanti bisa menjadi bahan untuk kita bersama dalam menjelaskan ke masyarakat aturan yg sebenarnya.

Pihak kehutanan KPH rinjani dalam kesempatan tersebut menyampaikan saya akan sedikit menjelaskan bhw KPH rinjani barat berdiri tahun 2000 yang terdiri dari kabupaten Lobar KLU dan Loteng dengan terbagi menjadi 8 resor yg salah satunya Resor jangkok.

Terkait keberadaan pura Argapura sudah lama berdiri sebelum di bentuknya KPH rinjani barat dan berada dalam kawasan zona hijau, sehingga sikap kami hanya di dasari toleransi dan keberadaan pura kami tidak permasalahakan namun dengan catatan tidak di perluas arealnya.

Dan ijin pengelolaan hutan dari kementrian hanya dalam bentuk perhutananan sosial, dan khusus di wilayah Kecamatan Lingsar terdapat beberapa desa yang termasuk dalam kawasan KPH rinjani barat yang memiliki ijin berbeda-beda antara lain hutan batu mekar bentuk ijinnya HKM, Desa langko Girimadia dan Dasan Geria bentuknya ijin kemitraan serta Karang bayan belum mendapatkan ijin karena keteragan pihak desa masih dalam proses pengajuan.

Pokdarwis di sela-sela pertemuan tersebut, menerangkan,” keberadaan kami saat di lokasi dalam rangka maping wilayah wisata akselarasi PSN bendungan meninting, dan dalam pelaksanaannya kami menemukan sebuah sanggah sudah dalam kondisi rusak, setahu kami dalam kawasan hutan lindung tidak di perbolehkan adanya banguanan permanen, sehingga saya mengharapkan adanya sosialisasi oleh pihak pemerintah terkait status pura agar masyarakat bisa memahami.

(Dani)