Keterwakilan Jatah 30% Perempuan Apakah Sudah Mewakili?

oleh -41 views

Infoindonesianews.com

Persoalan ketimpangan gender tercermin jelas dalam rendahnyaketerwakilan perempuan di struktur lembaga perwakilanIndonesia. Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, dari total 261,9 juta penduduk Indonesia pada 2017, penduduk perempuannya berjumlah 130,3 juta jiwa atau sekitar49, 75 persen dari populasi. Sayangnya, besarnya populasiperempuan tersebut tidak terepresentasi dalam parlemen.Proporsi perempuan di kursi DPR jauh lebih sedikit biladibandingkan dengan proporsi laki-laki.

Regulasi operasional yang bisa mewajibkan partai politik pesertapemilu mematuhi kebijakan afirmatif, tetap menjadi faktor strategis.Seperti KPU 2012-2017 yang menerbitkan PKPU Nomor 7 tahun2013 tentang Pencalonan DPR dan DPRD, di mana daftar calonyang diajukan partai politik peserta pemilu di tiap daerah pemilihan(dapil) wajib memenuhi syarat afirmasi sebagaimana diatur UU Nomor 8 tahun 2012. Jika tidak memenuhi ketentuan itu maka KPU menyatakan daftar calon partai di suatu dapil tidak memenuhisyarat. Partai harus memperbaiki daftar calon. Ketentuan tersebutmampu membuat pencalonan perempuan di tiap dapil 30 persen.

Saya tergelitik untuk memaknai kata 30% ini. Apakah penetapanjatah ini sudah dilakukan kajian yang mendalam? Dan alasanpenjatahan hingga menetapkan angka 30% ini apa sudahmewakili? Mengapa tidak menyebutkan angka 40% atau 50%, atau pertanyaan ekstrimnyaMengapa peran perempuan di kancah perpolitikan ini harus dijatah?”

Selaku perempuan yang juga menggeluti dunia gender, sayaingin mengatakan bahwa penjatahan ini tidaklah adil. Mengapaharus ada pendikotomian antara laki-laki dan perempuan. Inisemakin mempertegas peran perempuan di dunia politik tidaklahdiharapkan. Kalaupun ada hanya sekedar pelengkap penderitayang tidak terhitung. Ada dan tiada sama saja, yang pentingtelah memenuhi pesyaratan dan lolos berkas. Sekali lagi buatsaya sebagai perempuan, ini pemarginalan perempuan.

Padahal sebenarnya telah banyak bukti yang memperlihatkanperan perempuan yang mampu mengubah dunia. Mother Teresa (1910-1997), penerima Nobel tahun 1979, yang memiliki misimemberikan perlindungan bagi mereka yang sudah tidak punyasiapa-siapa dengan program “The Missionaries of Charity”.Diana (1961-1997), Princess of Wales, yang mendedikasikanhidupnya untuk perikemanusiaan. Dia juga memimpinkampanye pelarangan ranjau darat yang meraih Nobel. Benazir Bhutto (1953-2007), Perdana menteri ke 11 Pakistan, danwanita pertama yang memimpin negara muslim. Dia mengakhirikediktatoran militer di negaranya dan memperjuangkan hakwanita.  Hillary Rodham Clinton (1947), Mantan first lady Amerika Serikat yang kemudian terjun ke dunia politik menjadisenator dan menteri luar negeri, serta memperjuangkankepentingan wanita dan anak-anak. Dan banyak lagi buktiperempuan hebat lainnya.

Perempuan itu adalah makhluk yang multi talenta. Coba sajaperhatikan, mereka mampu memasak, mencuci dan mengepeldalam waktu bersamaan. Para perempuan mampu bertahandalam penderitaan yang  kaum laki-laki pasti tidak mampumengalaminya, yaitu mengandung, melahirkan dan menyusui. Telah banyak bukti, ketika para perempuan ditinggal olehsuaminya baik cerai hidup maupun cerai meninggal, merekaakan segera bangkit untuk mengambil alih estafet perekomiankeluarga, demi anak-anak mereka. Ketika ditarik benang merahke sector pemerintahan , maka perempuan mampu dengansegera mencari cara untuk menyelamatkan negaranya, bangsanya ketika dilanda krisis moneter. Perempuan itumempunyai Rahim, yang artinya kasih sayang dan perasaantidak tega an. Kaum hawa ini mempunyai banyak cara untukbertahan hidup, sehingga pasti menemukan solusi walauterkesan sedikit lamban namun terselesaikan. Syaratnya cukupsatu, kaum pria harus memberikan mereka penguatan dankesempatan,  karena over protective yang berlebihan dan label lemah kepada mereka, pasti akan menjatuhkan harkat, martabatdan inner power mereka.

Sekarang apa solusi dari penjatahan 30% ini? Sederhana saja, berikan para perempuan ini tempat yang layak, posisi yang tepatdi duniakaum laki-lakiini. Berikan mereka pelatihan tentangpolitik, kesadaran berpolitik, melek hukum dan tentunya ranahdomestic harus dibagi dua dengan kaum adam. Karena salahsatu kendala terbesar juga para perempuan ogah masuk ke duniaini, karena beban tanggung jawab seorang diri mengurusi urusandapur, kasur, dan sumur. Urusan anak-anak juga hampir 100% dihandle oleh mereka. Sehingga kalau saya melihat fenomenaini, secara tidak langsung menyatakan bahwa perempuan ituurusannya cukup berkutat di area domestic saja. Kalau konsepberpikir ini yang dipakai, berarti jatah 30% itu hanya sebagaipemanis saja, rasa sungkan tidak memberi jatah. Ibarat anakkecil, supaya diam, kasi permen saja lah.

Perempuan itu sendiri, ketika telah diberi kesempatan dan jatah, maka gunakan sebaik-baiknya. Perlihatkan kepada dunia, bahwakalian pun bisa. Rebut simpati dengan skil, kecerdasan dankemampuan managerial yang baik dalam  berpolitik, sehinggajatah 30% dapat ditingkatkan atau bahkan dihapuskan menjaditanpa penjatahan lagi. Dan kaum pria diharapkan tidak lagimemandang sebelah mata kepada perempuan, justru beri merekaruang untuk berprestasi dan berapresiasi.  

Sekali lagi jatah 30% di pemilu serentak di tahun 2019 ini, diharapkan tidak lagi menjadikan perempuan sebagai pelengkappenderita atau sebagai kewajiban memenuhi syarat administrasisaja, tapi libatkan mereka secara full, dampingi dan bimbingmereka terlibat secara aktif di kepemiluan ini. Kalau perluurutan no 1, berikan kepada mereka, jangan selalu urutan 3, 6 atau terakhir saja. Mengapa selama ini perempuan tetapterpinggirkan baik dalam hal pendidikan, ekonomi dankesehatan? Karena rata-rata yang duduk di parlemen adalahkaum pria yang tidak paham akan masalah perempuan. Kaumlaki-laki yang mencoba menyelesaikan permasalah perempuandari sudut pandang mereka.

Selamat bertanding di arena legislative ini, berikan yang terbaikdari diri anda !!!

Dalam banyak hal, gerakan menuju globalisasi juga berartimarjinalisasi terhadap wanita dan gadis. Dan hal tersebutharus berubah.” – Hillary Rodham Clinton (1947).

(Artikel/Penulis :Mulyanah Mulkin Selaku Direktur NGO PASAK, Pusat Studi Layanan Publik dan pemerhati perempuan dan anak).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.