by

Isyu Operasi Rapid Tes di Pasar Picu PAP Kebon Roek Devisit 70 Persen

Mataram, infoindonesianews.com -Pandemic corona telah melumpuhkan hampir 90% sendi sendi perekonomian serta telah merubah tatanan social dan adat kearifan local ditengah tengah masyarakat. Ramah tamah yang semula selalu diwarnai salam dan jabat tangan dalam eratnya hubungan emosional kini sudah tak ada lagi.

Demikian pula pelaksanaan ibadah dirumah rumah ibadah dibatasi termasuk juga pelaksanaan ritual adat budaya kearifan local juga dilarang karena memancing kerumunan massa dalam jumlah besar yang diduga dapat memicu kluster baru penyebaran covid-19 dan undang undang pun diterapkan dengan ketat.

Corona tak peduli dan terus meningkatkan penularannya hingga dugaan bahwa komunitas pasar sangat rentan terhadap penularan Covid-19 karena memancing kerumunan masa dalam jumlah super besar.

Penerapan protap covid-19 pun diberlakukan dengan ketat dibawah pengasan intensif tim Gugas yang menyebabkan terjadinya penurunan Pendapatan Asli Pasar (PAP) melalui retribusi untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Belakangan kemudian menyusul isyu bahwa Tim Gugas Terpadu Covid-19 akan menerapkan Rapid Tes terhadap pedagang dan pengunjung diseluruh pasar tradisional untuk memutus rantai penularan covid-19.

Isyu tersebut berdampak pada sepinya pengunjung pasar tradisional secara drastis hingga berdampak pada menurunnya Pendapatan Asli Pasar (PAP) kian merosot hingga mencapai 70% dari sebelum masa pandemic. Hal tersebut diungkapkan Marwi, kepala pasar Kebon Roek, pada hari Rabu 29 Juli 2020 diruang kerjanya.

“Sejak Mei lalu dimulainya isyu pandemic corona management pasar Kebon Rowek telah mulai melakukan penertiban khususnya kepada para pedagang. Rapid tes sudah pula dilakukan kepada 68 pedagang pasar Kebon Rowek dan terindikasi 2 orang reaktif dan sekarang sudah dinyatakan sembuh diawal awal penyebaran covid-19.”

Selanjutnya muncul isyu akan diberlakukan juga rapid tes terhadap para pengunjung pasar yang berdampak pada menurunnya inkam pasar dari hasil pengelolaan dan devisit hingga 70%.

Target yang diberikan oleh Dinas Perindag Kota Mataram harus mencapai pendapatan Rp. 2050.000’-/hari. Sebelum pandemic pendapatan pasar Kebon Roek dapat mencapai target yang ditentukan , namun sejak masa pandemic hanya Rp, 1000.000,- bahkan hari ini (Rabu 29/7) hanya mendapatkan Rp. 500.000,-, jelasnya.

Lanjut Marwi,” isyu yang beredar terkait rencana operasi rapid tes terhadap pengunjung pasar itu ternyata tidak benar, dan pemerintah Kota Mataram melalui Dikes Kota Mataram telah melakukan klarifikasi melalui media bahwa hal itu tidak benar dan Tim Gugas tidak akan pernah menerapkan rapid tes terhadap pengunjung pasar. Hanya pengawasan terhadap penerapan protap standar covid-19”, pungkasnya.

(man*)

News Feed