by

Gandeng BPOM, Hasnah Syam Sosialisasikan Soal Obat, Makanan Dan Kosmetik

-Nasional-4 views

infoindonesianews.com – Salasa, 28 Juli 2020.

BARRU – Guna mendorong serta mengedukasi masyarakat tentang pola hidup sehat utamanya pemilihan kosmetik dan bahan pangan yang aman, Anggota DPR RI Komisi IX /Anggota Fraksi Nasdem Hasnah Syam menggandeng Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam kegiatan sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Komunikasi Informasi (KIE) Obat-Obat Tradisional Kosmetik Dan Pangan, kegiatan yang digelar di gedung PKG ,Kecamatan Tanete Rilau ,Selasa (28/7/2020) tersebut juga melibatkan kepala Dinas Kesehatan Barru sebagai Nara sumber.

Mewakili Camat Tanete Rilau, Kasi Trantip Andi Ikram Sanjaya, menyampaikan terimah kasihnya kepada Anggota DPR RI sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Barru Hj Hasnah Syam yang hadir di Kecamatan Tanete Rilau.

“Dengan adanya kegiatan ini masyarakat dapat memahami persoalan-persoalan terkait obat ,kosmetik dan pangan agar mengetahui mana yang layak digunakan dan mana yang tidak,” kata Andi Ikram.

Sementara Hj Hasnah Syam Anggota DPR RI Komisi IX/Fraksi Nasdem mengungkapkan rasa bahagianya, karena bisa bertatap muka lagi pasca pemilihan legislatif 2019 tahun lalu. Kegiatan sosialisasi tersebut dilaksanakan memang sebagai salah satu agenda atau tugasnya sebagai Anggota DPR RI.

“Terima kasih kepada masyarakat Barru khususnya masyarakat Tanete Rilau yang telah mempercayakan kami menjadi Anggota DPRD RI, Insya Allah saya akan terus berbuat khususnya kepada masyarakat yang saya wakili, “ucap Hj Hasnah Syam yang juga Ketua Tim PKK Kabupaten Barru.

Balai POM merupakan salah satu mitra Komisi IX  DPR RI, Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan Pengetahuan Masyarakat tentang produk Obat, Obat Tradisional, Kosmetik, Produk Komplimen, Pangan yang aman dikonsumsi dan digunakan bagi masyarakat.

“Masih banyak masyarakat yang belum memahami bagaimana cara memilih dan menggunakan produk obat, obat tradisional, kosmetik, dan pangan yang aman, sehingga perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang hal tersebut,” ujar Anggota Fraksi Nasdem tersebut.

Rasa salut juga di ungkapkan, Hj Hasnah Syam atas kepatuhan masyarakat Barru terhadap protokol kesehatan, sehingga Barru masih berada di posisi terendah tingkat penyebaran covidnya, meski demikian Hasnah Syam tetap meminta masyarakat terus waspada dan mematuhi protokol kesehaten.

Sementara itu dua Narasumber dalam kegiatan ini diantaranya Dra Adilah Pababbari Apt,MM Pengawas Farmasi Makanan Ahli Madya mewakili Kepala Balai POM Sulsel menyampaikan, BPOM memiliki Visi Obat , Makanan dan Pangan aman meningkatkan kesehatan masyarakat dan daya saing bangsa.

“Sedangkan Misinya, yakni meningkatkan sistem pengawasan obat dan makanan berbasis resiko untuk melindungi masyarakat, Mendorong kemandirian pelaku usaha untuk memberikan jaminan keamanan obat dan makanan, serta memperkuat kemitraan pemangku kepentingan, dan selanjutnya meningkatkan kapasitas kelembagaan POM,” jelasnya.

Sehingga kata dia tujuan utama sosialisasi ini adalah untuk menjaga keamanan ,obat makanan dan kosmetik dari kemungkinan masyarakat menggunakan atau mengkonsumsi obat, makanan atau kosmetik yang tidak memenuhi syarat.

“Karena itu, dihimbau kepada masyarakat, berhati-hati menggunakan obat tanpa resep dokter apalagi obat Ilegal atau obat palsu. Obat Ilegal adalah obat yang tidak memiliki ijin produksi, sementara obat palsu yakni membuat obat sama dengan aslinya,” kata Mantan Kepala Balai POM Sulawesi Tengah itu

Begitu pula kosmetik yang terbuat dari bahan racikan yang bisa merusak bagian wajah atau tubuh bagian luar manusia. “Semoga dengan sosialisasi ini dapat memberikan atau pencegahan atas obat, makanan dan kosmetik yang ilegal dan paslu,” harapnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barru dr Amiz Rivai menjelaskan dampak obat palsu dan ilegal, menurutnya obat tersebut dapat berakibat fatal.

Dipaparkannya pula tentang penggunan dan perbedaan Obat yang bisa digunakan dalam tanda logo. Obat Bebas atau (OB) Arti logo lingkaran pada kemasan obat berwarna hijau memiliki arti jika obat-obatan tersebut merupakan obat yang dijual bebas, serta dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter. Obat bebas tersebut memiliki logo lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam.

Obat bebas tersebut juga bisa dijumpai di Apotek, toko obat, warung kelontong, serta supermarket. Itu karena, obat bebas itu memiliki zat aktif yang relatif aman digunakan. Untuk Arti logo lingkaran pada kemasan obat berwarna biru dengan garis tepi berwarna hitam, sebenarnya termasuk obat keras. Akan tetapi masih dapat dijual serta dibeli secara bebas tanpa resep dokter, dengan disertai tanda peringatan di kemasannya. Sebagai obat keras, penggunaan obat tersebut dibatasi untuk setiap takarannya. Obat-obatan dari golongan OB serta OBT dalam keadaan serta batas tertentu memang dibenarkan untuk self medication karena mudah diperoleh.

Sementara, Obat dengan logo lingkaran pada kemasan obat berwarna merah hanya boleh diperjual belikan di Apotek dengan menyertakan resep dokter. Memiliki sebuah tanda khusus pada logo berupa huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi warna hitam.

Kalimat “HARUS DENGAN RESEP DOKTER” harus dicantumkan pada blister, strip, vial, ampul, tube atau bentuk wadah lain bila wadah tersebut dibungkus dalam bungkus luar. Obat golongan Psikotropika juga masuk kedalam golongan obat keras dengan logo yang sama ,Selain dengan efek adiksi atau ketagihan, efek samping dari obat dengan logo lingkaran pada kemasan obat berwarna merah dan tanda plus di tengahnya bisa menimbulkan hilangnya kesadaran serta mati rasa.

“Obat golongan tersebut bersifat adiksi, serta penggunaannya diawasi dengan ketat oleh tenaga medis, dan hanya dapat diperoleh dengan resep dokter yang asli, tidak dengan copy resep,” paparnya.

Sehingga lanjutnya, Dinkes Barru dan BPOM harus berperan aktif dalam melakukan pencegahan terhadap bahan makanan dan obat-obatan yang beredar dikalangan masyarakat.

“Termasuk memperhatikan langsung sentra-sentra produksi, khususnya yang akan dijual atau dipasarkan ke orang banyak,” tandasny.

Salah seorang peserta sangat mengapresiasi sosialisasi ini, sehingga masyarakat faham dengan penggunaan obat yang kurang tepat.

Masyarakat membeli obat disembarang tempat utu karena kurangnya informasi, selain itu diharapkan tidak hanya Dinas Kesehatan ,Dinas yang lainnya juga dapat bersosialisasi. Seperti misalnya dinas ketahanan pangan dan pertanian.

Penulis Berita : Irsam IINews. Editor Berita : Liesna Ega Kabiro IInews

News Feed