INFO INDONESIA
Nasional

Diduga Melayani Warga “Ala Kadarnya” Hingga Pasien Meninggal. Ketua Pospera Lutim Layangkan Surat Terbuka Untuk Bupati Luwu Timur.

Infoindonesianews.com

Malili – Terkait Pelayanan yang dianggap “Ala Kadarnya” yang dilakukan oleh pihak Puskesmas Mangkutana, Luwu Timur. Ketua Pospera Lutim, Erwin R Sandi melayangkan Surat Terbuka Untuk Bupati Luwu Timur, HM. Thoriq Husler. Adapun isi surat terbuka tersebut melalui Media Sosial akun Facebook pribadi Erwin sebagai berikut.

Yth Bapak Bupati Luwu Timur

Assalamu alaikum wr.wb.
Selamat Malam, salam sejahtera untuk kita semua. Semoga Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada seluruh masyarakat Luwu Timur beserta keluarga dan para Pemimpinanya.

Sebelumnya , Saya Mohon Maaf, Apabila saya sebagai salah seorang warga Bapak menyampaikan hal yang kurang berkenan dihati bapak selaku pengambil kebijakan dan mempunyai wewenang yang tentu bertujuan untuk sebesar besarnya Kesejahteraan dengan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Luwu Timur yang Lebih baik.

Saya percaya bahwa Bapak Bupati adalah pemimpin yang baik yang tidak akan menutup ruang untuk mendengar aspirasi warganya. Atas dasar itu, izinkan saya sedikit menyampaikan tentang hal yang amat sangat vital bagi saya dan mungkin bisa jadi salah satu highlight point bagi Bapak dalam bekerja, berinovasi, dan melayani warga.

Bagi saya pelayanan kesehatan adalah kebutuh primer. Hal ini mendasari mengapa pelayanan kesehatan harusnya mendapat perhatian paling serius. Apalagi pelayanan kesehatan merupakan salah satu hak mendasar warga yang penyediaannya wajib diselenggarakan oleh pemerintah sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang-undang Dasar 1945.

Jika boleh menilai, pelayanan kesehatan di kabupaten kita masih di luar harapan saya. Masalah yang terbilang dasar yang cenderung jalan di tempat,

Sejak Setahun Yang Lalu, Saya sering menyoroti terkait Pelayanan di Puskesmas puskesmas Dibeberapa Kecamatan.
Beberapa diantaranya, Adanya Dugaan Uang BBM yang ditarik dari keluarga Pasien yang akan di rujuk ke Rumah sakit. Tapi Alhamdulillah, sejak kejadian di Puskesmas Towuti Tahun lalu yang banyak menuai kecaman masyarakat, telah ditindak lanjuti dan semoga menjadi kejadian terakhir.

Belum cukup sebulan yang lalu, Saya menemukan Ambulans PKM Lakawali Yang Sedang Memuat 2 Pasien Berhenti di tepi jalan karena Lampu indikator BBM Pada Ambulans sudah menyala. Saya sangat terenyuh…. Bukan kah Ambulans itu Adalah Kendaraan darurat yang seharusnya Tangki BBM nya harus selalu terisi cukup??

Dan Malam ini…..
Hati saya kembali seperti teriris Membaca Postingan Salah satu Warga tentang Pelayanan kesehatan yang dilakukan “ala kadarnya” pada Puskesmas Mangkutana. dan karena
Postingan tersebut, menggerakkan Jari jari saya untuk Membuat Surat Terbuka ini.

Bapak Bupati Yang Saya Hormati….
Kami sampaikan bahwa Penyediaan mobil ambulans di Puskesmas puskesmas sudah cukup tapi sepertinya perlu mendapat perhatian. Jika ambulans PKM memang hanya diperuntukkan untuk memobilisasi pasien dari Puskesmas ke rumah sakit (rujukan), lalu bagaimana cara warga yang sedang kritis di rumah dan tidak memiliki kendaraan ? Saya yakin tidak semua warga Bapak memiliki kendaraan. Tidak semua pula warga memiliki kerabat atau tetangga yang bisa dipinjam kendaraannya untuk mobilisasi orang sakit ke rumah sakit. Angkutan umum pun belum bisa diharapkan. Lalu, mereka harus bagaimana ?

Bapak Bupati yang saya Hormati….
Parameter pembangunan tak mesti bermula dari perbaikan yang besar yang bisa dilihat dengan kasat mata, cukup mulai dari hal-hal kecil yang terkadang disepelekan. Jika hal-hal kecil bisa mendatangkan manfaat yang besar bagi warga, akan jauh lebih berharga dibanding hal-hal yang besar tapi hanya dirasakan oleh segelitintir kalangan. Hal-hal yang kecil inilah yang harus dibenahi dan itu tidak akan Bapak temui ketika Bapak berorientasi kepada pembangunan yang mengejar fisik semata.

Hadirnya fasilitas dasar untuk menunjang pelayananan kesehatan yang bisa mempermudah warga lebih dari cukup. Tinggal Bapak memastikan bahwa sarana dan prasarana kesehatan yang ada bisa dijangkau oleh semua kalangan dengan pelayanan yang ramah. Jika tidak (saya benci mengatakan ini), lebih baik tidak ada Puskesmas di kecamatan kecamatan daripada dibuat ada tapi hanya didirikan sebatas “penghias” dan tidak bisa menduduki fungsi sesungguhnya dalam melayani warganya.

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan harusnya sudah menjadi harga mati yang diperuntukkan bagi warga. Mutu pelayanan kesehatan tidak sekedar dilihat dari kuantitas puskesmas, tapi kualitas dari pelayanan yang diberikan. Tidak serta merta harus memperbanyak Ruang ruang di Puskesmas atapun pelayanan-pelayanan kesehatan lainnya, minimal yang sudah ada rutin dilakukan dievaluasi. Apakah semuanya sudah menjalanan fungsi yang sebenarnya ? Apakah Puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya yang ada sudah sesuai dengan kebutuhan warga ?

Jika belum, apa saja kendala yang dihadapi ? Adakah kekurangan yang perlu dibenahi ? Adakah sarana dan prasarana yang perlu diperbarui ataupun ditambah ? Apakah sumber daya manusianya sudah mencukupi baik dari sisi kualitas dan kuantitasnya ? Apakah warga sudah merasakan manfaatnya ? Lalu apa yang perlu dikaji kembali untuk terus meningkatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan warga yang dinamis ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dijadikan dasar untuk merevitalisasi pelayanan kesehatan demi meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

Bapak, jujur, saya iri Jika membaca di media ada daerah yang memiliki call center darurat pelayanan kesehatan yang siap siaga selama 24 jam untuk warganya. Kehadiran call center ini tentuya memberikan kemudahan warga dalam mengakses pelayanan kesehatan, sehingga tidak ada lagi ambulans yang tak diperuntukkan untuk menjemput warga yang kritis dan tak memiliki kendaraan. Inovasi yang mungkin bisa kita kembangkan.

Di lain sisi, puskesmas yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan upaya kesehatan dasar untuk jenjang pertama harus turut serta mengambil bagian dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. Jika memungkinkan puskesmas puskesmas disemua kecamatan tetap beroperasi Normal di hari sabtu dan minggu, karena jika tidak, akan ada kesan bahwa kami dilarang sakit di hari libur. Andaikan penyakit bisa kami ajak berkompromi, kami akan meminta untuk sakit di hari kerja (weekdays) sehingga tidak terlalu membebani Bapak, tapi tidak.

Saya sadar, peningkatan pelayanan kesehatan tentunya tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pihak tertentu, tidak juga hanya akan menjadi tanggung jawab Bapak, tetapi peran serta semua pihak termasuk warga untuk turut serta dalam mensukseskan program pemerintah dalam meningkatkan pelayanan di bidang kesehatan. Sinergi ini yang harus diperkuat dengan mengedepankan kesadaran akan fungsi dan peran masing-masing.

Warga berperan sebagai pengguna jasa pelayanan yang ‘cerdas’, bukan hanya menginginkan pelayanan yang cepat, tetapi juga pelayanan yang sesuai standar pelayanan kesehatan. Para pelayanan kesehatan juga harus mengubah pola pikir dari sekedar memberi obat menjadi melayani pasien, dari pelayanan yang tidak ramah menjadi pelayanan yang ramah dan penuh senyum.

Melayani tidak hanya seenak perut atau karena tuntutan kerjaan, tapi dari hati. Begitupula dengan Bapak, serta pihak tekait untuk terus melakukan pembinaan, pendampingan dan evaluasi berkelanjutan demi memastikan bahwa fungsi pelayanan publik yang diberikan ke warga sesuai dengan kebutuhan warga. Monitoring secara berkala di Rumah Sakit dan pelayanan kesehatan perlu dilakukan. Jangan sungkan untuk memberikan reward and punishment bagi penyedia layanan kesehatan. Hal ini semata-mata agar menjadi pemacu untuk terus meningkatkan perannya dalam melayani warga.

Kontrol dan pengawasan berkesinambungan untuk tetap dilakukan demi memastikan bahwa daya serap anggaran tersebut betul-betul dialokasikan secara optimal untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

Suatu saat pasti akan tetap ada kritik dan complain, tapi semua itu mestinya tidak diartikan sebagai hal yang destruktif, tidak pula dimaknai sebagai serangan buat Bapak, tetapi diterima sebagai koreksi terhadap cara berpikir dan cara melayani karena sudah seharusnya warga menjadi objek pelayanan pemerintah.

Saya tidak bermaksud menggurui Bapak, karena saya yakin pengalaman dan pengetahuan Bapak sangat jauh dan mumpuni di atas saya. Saya hanya Masyarakat biasa yang punya sedikit kepedulian pada daerah ini.

Mohon maaf jika ada luapan ‘kekecewaan’ atau kata-kata yang kurang berkenan.Tapi jauh dari relung hati saya, tulisan ini tak berakhir sebatas untaian kata buat Bapak. Ada sebuah harapan akan perubahan, perbaikan, yang dinantikan oleh warga Bapak seperti saya.

Semoga Allah SWT senantiasa menyertai dan melindungi setiap langkah bapak dalam bekerja, membawa kabupaten ini menjadi Kabupaten Terkemuka Tahun 2021.

Salam Dari Kami
Erwin R. Sandi,
Ketua Pospera Luwu Timur.

(Andi Zachril)

Related posts

Bantu Peningkatan Ketahanan Pangan, Satgas TMMD 109 Bangun Saluran Irigasi

info

Keluarga Besar Jurnalis Indonesia Satu (JIS) Ambil Sikap atas Dugaan Penghinaan, Pencemaran Nama Baik & Pelecehan Profesi Jurnalis

cr@redaksi redaksi

Kaswadi Raih Penghargaan Sebagai Tokoh Inspiratif.

info

Leave a Comment