Infoindonesianews.com | Senin, 10 Januari 2022.

Kab. Ciamis | Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemdakab) Ciamis akan kembali melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada 10 Januari 2022 untuk seluruh tingkatan sekolah.

Hal tersebut disampaikan Bupati Ciamis Herdiat Sunarya saat memberikan arahan dalam rapat persiapan pelaksanaan PTM bersama seluruh satuan Pendidikan se-Kabupaten Ciamis secara virtual di ruang Vidcon Bupati, Sabtu (8/1/2021).

“Sesuai dengan Keputusan Bersama 4 Mentri, Menteri Pendidikan, Menteri Agama, Mendagri dan Menteri Kesehatan bahwa apabila sudah di level 1 diperbolehkan untuk melaksanakan PTM secara langsung,” ucap bupati.

Bupati Ciamis mengatakan pertanggal 3 Januari 2022 berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri bahwa Kabupaten Ciamis sudah berada di level 1.

“Tentu ini hasil kerja keras dari semua pihak termasuk dari kalangan pendidikan, TNI, Polri, tokoh masyarakat, tokoh Ulama dan pemuda yang senantiasa memberikan edukasi dan sosialisasi tentang penanganan COVID-19 kepada masyarakat,” ucapnya.

Dikatakan bupati, salah satu yang menjadi indikator penurunan level tersebut selain penurunan kasus adalah capaian vaksinasi.

” Alhamdulillah untuk Kabupaten Ciamis sampai hari kemarin sudah melampaui target yaitu 71,56 persen dan konfirmasi positif sudah kosong sejak 3 bulan lalu,” terangnya.

“Meski begitu kita tetap harus waspada dan berhati-hati, salah satunya dengan tetap mempedomani protokol kesehatan,” imbuhnya.

Terkait pelaksanan PTM, bupati mengatakan selain berdasarkan peraturan, juga merupakan hasil survey melaui Dinas Kesehatan sebulan sebelumnya bahwa semua sekolah sudah siap melaksanakan pembelajaran tatap muka.

“PTM langsung akan di evaluasi setiap seminggu sekali, untuk itu diharapkan pihak sekolah lebih aktif dalam memberikan laporan,” tuturnya.

Bupati Sampaikan Vaksinasi Menjadi Syarat Wajib Bagi Tenaga Pendidik Dalam PTM

Disampaikan bupati, pendidik dan tenaga kependidikan, wajib melaksanakan vaksinasi kecuali bagi tenaga pendidik yang memiliki komorbid atau ada rekomendasi dokter untuk tidak diperkenankan vaksinasi maka tetap melalui daring.

“Mudah-mudahan bapak ibu dapat melaksanakan vaksinasi secara keseluruhan, terlebih pelaksanan vaksinasi untuk usia 6 – 11 tahun diharapakan semua sekolah dapat melaksanakanya,” harapnya.

“Vaksinasi untuk usia 6 – 11 tahun ini di tergetkan 100% sampai tanggal 15 nanti, dan sudah berjalan beberapa hari kebelakang,” tambahnya.

Ia mengimbau bagi yang belum vaksinasi untuk segera berkordinasi dengan puskesmas setempat atau pihak kepolisian.

“Pihak kepolisian sangat proaktif terhadap pelaksanaan vaksinasi ini,” singkatnya.

Pelaksanaan PTM Harus Tetap Mempedomani Protokol Kesehatan Dengan Ketat

“Pelaksanan PTM harus tetap melaksanakan prokes yang ketat seperti jaga jarak, pakai masker mencuci tangan dan yang lebih penting di setiap sekolah wajib menyediakan sarana prasarana prokes seperti tempat cuci tangan dan lain-lain,” ucap bupati.

Selain itu, bupati menuturkan kondisi medis satuan pendidikan yang melaksanakan PTM harus dalam kondisi sehat tidak terkonfirmasi atau tidak kontak erat dengan yang terkonfirmasi positif.

“Tetap semangat dan optimis karena kita juga mempunyai kewajiban untuk menciptakan generasi emas yaitu generasi yang akan melanjutkan generasi kita saat ini,” ucapnya.

Turut hadir mendampingi Bupati Ciamis, Wakil Bupati Ciamis, Kadisdik Ciamis dan Perwakilan Kepala Kemenag Ciamis.

Narasumber : DISKOMINFO CIAMIS. Pewarta : (*FAU). Editor Red IiNews : Liesna Ega.

Infoindonesianews.com | Sabtu, 8 Januari 2022.

Keterangan Foto : Popi Siti Ichsanniaty, S.Pd., M.Pd.
(Fungsional pada Bidang PSD, Disdik Kab. Bandung Barat)

BANDUNG BARAT | Renungan panjang dalam mengamati perjalanan peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan dalam menghadapi situasi pandemic covid 19. Fenomena itu menggerakkan hati ingin sedikitnya memberikan sebuah goresan yang bermakna dalam dunia pendidikan. Setidaknya, dalam situasi apapun dunia pendidikan tidak terpuruk dan dapat tegak berdiri dengan pondasi kuat yang dibangun secara bersinergi oleh kalangan akademisi, birokrasi, maupun warga sekolah yaitu pendidik, tenaga pendidik, dan orangtua siswa sebagai masyarakat pendamping yang siap memantau keberlangsungan pendidikan anak-anaknya.

Mencermati program-program pihak Kemendikbudristek yaitu Kejar Mutu PPPPendidikan yang tersebar di 15 Sekolah Dasar di Dinas Kabupaten Bandung Barat dapat digambarkan bahwa selama pandemi Covid 19 telah terjadi 3 faktor yang menjadi permasalahan mendasar yaitu learning loss, teaching loss, dan character loss. Di bawah ini akan dirunut satu persatu dari ketiga faktor yang menjadi kendala tersebut.

1. Learning loss
Learning loss dapat diartikan sebagai hilangnya pengetahuan dan keterampilan baik secara umum maupun spesifik atau terjadinya kemunduran proses akademik karena faktor tertentu. Hal yang melatarbelakangi terjadinya learning loss yaitu; 1) kasus peserta didik putus sekolah, 2) penurunan capaian belajar, 3) kekerasan terhadap anak, 4) guru masih terfokus dalam penuntasan kurikulum (education solution partner).

Dalam masalah kasus peserta didik yang terpaksa untuk bekerja dirasakan sebagai sebuah keterpaksaan. Mengapa demikian? Karena selama berada di sekolah peserta didik hanya melihat sekolah sebagai sebuah bangunan tempat belajar secara akademik, padahal hakikatnya pendidikan adalah membangun karakter peserta didik dalam menyiapkan masa depannya.

Hendaknya sekolah tidak hanya memberikan pelajaran secara akademik yang menuntut angka dan nilai namun mempersiapkan agar mereka dapat mandiri dapat bertanggung jawab terhadap kehidupannya melalui kegiatan wirausaha. Melalui kegiatan wirausaha, anak belajar bagaimana sebuah keinginan tidak dapat terpenuhi begitu saja tetapi melalui perjuangan yang tidak mudah.

Dalam kegiatan wirausaha anak memperoleh sifat gigih, tidak mudah menyerah; optimisme, negosiasi dan jiwa kerja keras. Jiwa inilah yang sudah hilang di antara peserta didik kita, karena selama ini selalu dihadapkan pada situasi dimudahkan dan diringankan.

Pendapat ini bukanlah stigma negative namun di daerah pedesaan jiwa ini masih ada, banyak peserta didik untuk menuju perjalanan sekolah, harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dan menempuh banyak rintangan. Bekal inilah yang diperlukan di tengah-tengah jiwa anak-anak kita yang sudah mulai terkikis dengan adanya pengaruh gadget dan teknologi yang serba dimudahkan.
Penurunan capaian belajar dipengaruhi oleh perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh.

Hal itu berakibat pada kesenjangan capaian belajar terutama untuk anak dari sosio-ekonomi berbeda. Ketercapaian tujuan pembelajaran tidak dapat disamaratakan antara kondisi di daerah perkotaan dan di daerah pedesaan. Di daerah perkotaan peserta didik dimudahkan dengan terpenuhinya berbagai aspek jaringan teknologi dan informasi.

Sedangkan di daerah pedesaan, jaringan internet dan kendala signal yang menjadi hambatan dalam akses pembelajaran. Tentu saja penilaian tidak hanya diukur oleh kemampuan peserta didik dalam akses internet, sebaiknya penilaian secara akademis dikolaborasikan dengan kemampuan peserta didik yang berada di daerah pedesaan dengan cara mereka mampu membantu orang tua di ladang atau perkebunan atau apaun itu yang sekiranya peserta didik dapat membantu orangtua dengan berbagai kegiatan kreatif yang bermanfaat baik bagi diri dan lingkungannya.

Tidak adanya sekolah tatap muka melahirkan banyak anak yang terjebak di dalam kekerasan di rumah tanpa terdeteksi guru. Proses pembelajaran peserta didik kita dari awal masuk ke bangku sekolah tidak dipersiapkan bahwa proses pembelajaran pada dasarnya adalah tugas bersama-sama antara pendidik dan orang tua. Selama ini mindset orangtua beranggapan bahwa perolehan ilmu adalah tugas seorang guru.

Di kalangan masyarakat, khususnya orang tua masih banyak yang belum memahami hal itu. Sejauh ini, program parenting masih kurang disosialisasikan bahwa pentingnya peranan orangtua dalam mendampingi anak dalam proses pembelajaran. Ilmu hanya sekedar perolehan informasi dari buku bacaan ataupun pemaparan dari guru. Padahal ilmu sejatinya adalah usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam semesta. Proses peserta didik dalam mengamati, mengobservasi penemuan tentang pengetahuan adalah ilmu.

Bagaimana misalnya seorang peserta didik dapat mengamati. Bagaimana proses bunga dapat mekar dari awal kuncup. Proses fotosintesis ini harus diamati oleh peserat didik sehingga mereka dapat menemukan teorinya sendiri. Inilah yang harus diasah oleh para pendidik, sehingga muncul rasa ingin tahu, rasa kebanggaan memperoleh imu dari hasil meneliti, sehingga lahirlah peneliti-peneliti yang handal dan beretika.

Kesulitan guru adalah mengelola pembelajaran jarak jauh dan masih terfokus dalam penuntasan kurikulum. Pendidik dalam menyampaikan materi seperti kejar-kejaran dengan penuntasan kurikulum. Strategi pembelajaran melalui virtual hanya sebatas penyampaian materi saja, tidak dibarengi dengan kreativitas siswa dalam memahami materi tersebut.

Karena itu, pihak kemdikbudristek memberikan alternatif penggunaan kurikulum darurat dalam masa pandemi Covid 19. Sebenarnya, apabila pendidik jeli dalam kurikulum 2013 telah memuat kreativitas agar siswa dapat bersikap kreatif dan inovatif, bahkan di sekolah-sekolah swasta kurikulum 2013 dikombinasikan dengan muatan kurikulum sekolah.

Sehingga hal inilah yang menyebabkan kejenuhan pada diri anak dalam menerima materi-materi yang diterima dari gurunya. Yang terjadi, hanya sekedar transformasi ilmu dari pendidik kepada peserta didik dan penugasan yang bertumpuk, padahal hakikat pencarian ilmu yang sudah dibicarakan di awal adalah proses pengamatan dan penemuan teori melalui alam sekitarnya.

2. Teaching loss
Teaching loss dapat diartikan sebagai menurunnya semangat pendidik dalam membekali peserta didik dalam proses pembelajaran. Mereka terlena dengan waktu yang fleksibel dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Namun, dari hasil temuan lain, dengan diberlakukannya pembelajaran jarak jauh membuat guru merasa kelelahan karena harus menyiapkan materi dalam waktu yang singkat dan beban tugas administrasi yang tidak sedikit tentunya. Di sinilah peranan pemimpin yaitu kepala satuan pendidikan untuk dapat melaksanakan sistem manajerial yang efektif dan menyenangkan. Menciptakan kondisi dunia kerja yang dapat menjawab kebutuhan guru sehingga merasa nyaman berada di sekolah. Sekolah harus menjadi rumah kedua bagi guru dalam meningkatkan kreativitas dan inovasi.

3. Character loss
Pendidikan karakter merupakan usaha yang terncana untuk membangun karakter individu agar menjadi pribadi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun untuk orang banyak. Di Jepang, penanaman karakter telah diberikan di kelas rendah yaitu di kelas 1, 2 dan 3 jenjang Sekolah Dasar. Siswa kelas rendah tersebut dalam 3 tahun tidak diberikan pelajaran yang bersifat akademis melainkan pelajaran nilai-nilai moral dan etika sopan santun terhadap sesama, guru, warga sekolah maupun orangtuanya di rumah.

Dari awal berangkat sekolah mereka dibiasakan untuk pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sendiri walaupun memiliki fasilitas pribadi, apabila letak rumahnya berjauhan dari sekolah disiapkan kendaraan sekolah maupun transportasi umum yang ramah anak. Tidak ada peserta didik di Jepang kita temukan mereka diantar jemput oleh orangtua atau supir pribadinya.

Bahkan di kelas taman kanak-kanak pun mereka telah mandiri pergi dan berangkat ke sekolah sendiri. Hal ini untuk melatih kemandirian dan sikap bertanggung jawab terhadap dirinya. Selanjutnya, pada saat sesi makan siang, mereka secara bergantian melayani temannya mempersiapkan ruang makan dan mencuci sendiri alat makannya bahkan membersihkan sendiri ruang kelasnya. Dari kegiatan tersebut karakter anak terbangun yaitu sifat ingin melayani orang lain apabila ingin dihargai oleh orang lain, sifat empati dan simpati, sifat menghargai pekerjaan orang lain apapun pekerjaannya, dan pentingnya pekerjaan orang lain dihargai.

Dalam budaya mengantri banyak kita temukan karakter yaitu belajar menunggu. Dengan menunggu melatih jiwa sabar, mengatur waktu, menghargai sebuah kompensasi, apabila telat maka akan berada di urutan belakang. Belajar menghargai sebuah proses bukan hasil. Hasil hanyalah sebuah bonus dari ketercapaian sebuah proses.

Penanaman bekal agama tidak hanya milik mata pelajaran agama saja tetapi pembekalan orangtua yang pertama dan utama. Agama sebagai pondasi awal dapat disinergikan dalam kehidupan sehari-hari, sholat tepat waktu mengajarkan bahwa dalam hal apapun kita harus menghargai waktu dan kepatuhan terhadap Sang Khalik. Agama pun bukan hanya ritual, namun penanaman akhlak yang baik menajadi dasar pribadi yang seutuhnya.

Dari catatan tersebut saya berpikir bahwa bangsa kita memang dari awal tidak dipersiapkan menghadapi situasi dalam keadaan darurat. Pada saat terjadi pandemi Covid 19, semua seperti bangun dari tidur yang Panjang. Dari awal selama ini kita memang sudah banyak kehilangan yang tanpa kita sadari. Esensi sebuah pendidikan yaitu membangun karakter dan membangun rasa ingin tahu siswa dianggap sebagai hal yang bisa tercapai melalui pelajaran-pelajaran, padahal sesungguhnya merupakan bagian dari proses pembelajaran.

Sebaiknya penanaman karakter mulai sekarang dapat disisipkan dalam setiap mata pelajaran, sehingga tidak lagi kita merasakan kehilangan. Jangan sampai kita kehilangan lagi yang lebih besar yaitu kehilangan anak-anak kita, dimakan oleh kemajuan zaman. Kita jangan sampai melahirkan robot-robot yang tidak berempati dan bersih.

Narasumber Pewarta : DasSsar IiNews Jabar. Editor Red : Liesna Ega.

Infoindonesianews.com | Rabu, 5 Januari 2022.

ACEH |Kepala dinas pendidikan H. Sairun, S.Ag melaksanakan kunjungan perdana awal tahun 2022 ke PAUD iqra’ Desa Namo Buaya, Kec. Sultan Daulat, kota Subulussalam, Selasa (4/1/2022)

Dalam perjalanan menuju PAUD Iqra’ tampak Kadisdik menyempatkan waktu menyambangi siswa SD sedang berjalan di jalan raya. Terlihat pula Kadisdik turun dari mobil dan langsung bertanya kepada siswa yang sudah pulang sekolah padahal waktu masih menunjukkan jam aktif belajar.

Menjawab pertanyaan Kadisdik, siswa tersebut menjelaskan bahwa mereka hendak buang air besar ke Mesjid. Kadisdik kembali bertanya,” apakah disekolah kalian tidak ada WC..? Ada pak, tapi rusak,” jawab para siswa itu.

Dengan tidak mengulur waktu, Kadisdik langsung menuju SD Namo Buaya dan mengkroscek kondisi WC. dengan kecewa Kadisdik melihat kondisi WC 4 pintu yang sudah tidak terawat dan rusak.

Kepada Kadisdik kepala sekolah tersebut menyampaikan alasan bahwa Lingkungan kurang mendukung ” WC sekolah ini kerap di gunakan masyarakat tanpa memikirkan kenyaman”, ujar Kepsek beralasan.

“WC/MCK sekolah wajib dirawat, ini tanggung jawab sebagai Kepala sekolah ,dan mulai hari ini Anak-anak peserta didik tidak boleh keluar dari pekarangan sekolah untuk buang air, apalagi dengan melintasi jalan raya resikonya cukup tinggi,” tegas Kadisdik.

“Manfaatkan Dana BOS sebagian untuk perawatan ringan infrastruktur termasuk WC, Kepala sekolah harus Inovatif dan bijaklah ,apalagi ini kebutuhan dasar siswa,” tegas Kadis kepada Kepsek SDN Namo Buaya dengan kekecewaannya.

Kembali ke agenda awal, Kadisdikbud kota Subulussalam beranjak menuju PAUD Iqra’ di Desa Namo Boya melihat langsung proses belajar mengajar PAUD.

“Bagi kadis PAUD menjadi sasaran tahun 2022 dalam rangka mengsukseskan 1 Tahun Pra SD, dan akan segera mengambil Solusi setiap permasalahan yang ada,”pungkasnya.

Narasumber Pewarta : Sabirin Siahaan Biro Aceh. Editor Red IiNews : Liesna Ega.

Infoindonesianews.com | Minggu, 2 Januari 2022.

Ket Foto : Dadang A. Sapardan, Kepala Bidang Pembinaan SD DisdikKabupaten Bandung Barat.


BANDUNG BARAT | Sampai saat ini begitu banyak permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan manusia. Permasalahan yang sering terjadi dan menyeluruh pada berbagai wilayah adalah perusakan lingkungan hidup yang mengusik pelestariannya. Permasalahan perusakan lingkungan hidup ini tidak jarang melahirkan friksi antarpihak yang pro dan kontra. Lebih jauh lagi, perusakan lingkungan mengakibatkan bencana yang merugikan banyak pihak.


Keberlangsungan kehidupan manusia tidak terlepas dari peran budaya dan keyakinan masyarakat dalam mengelola lingkungan hidup. Langkah tersebut telah melahirkan masyarakat untuk dapat survive dalam kehidupan hingga saat ini. Berkaca atas keberlangsungan kehidupan masyarakat tersebut, penumbuhkembangan budaya masyarakat yang menjadi kearifan lokal (local wisdom) harus mendapat perhatian serius.


Kearifan lokal yang berkembang di masyarakat, tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja sehingga menguap dalam kehidupan masa kini dan masa depan. Kearifan lokal yang sudah lama cukup berkembang dan mewarnai kehidupan masyarakat telah menjadi sarana ampuh dan strategis dalam menyiapkan mereka untuk dapat survive dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Dalam keberlangsungan kehidupan ini, peran kearifan lokal sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat telah berperan sangat strategis.


Berkenaan dengan itu, dimungkinkan bahwa penguatan kearifan lokal dilakukan/diimplementasikan dalam proses pembelajaran di sekolah/madrasah. Keberadaan kearifan lokal sebagai kebijakan kontekstual yang berlaku sektoral harus menjadi pemikiran para pemangku kepentingan pendidikan.


Pertanyaan yang lahir adalah mungkinkah kearifan lokal terkait dengan pelestarian lingkungan ini diangkat dan diperkuat kembali dalam konteks kehidupan masyarakat, terutama kepada para generasi muda? Sementara, mereka terpenjara dengan stigma bahwa kearifan lokal merupakan produk kuno, kampungan’, ‘ketinggalan jaman, atau istilah lain yang berkonotasi tidak kekinian.


Menguatkan Local Wisdom
Perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab sehingga merusak lingkungan hidup merupakan fenomena yang berlangsung hingga saat ini. Bagaimana mereka dengan semena-mena menebangi pohon di lereng-lereng gunung dengan tanpa berpikir akan efek yang diakibatkannya. Fenomena lainnya yang terkait dengan perusakan lingkungan ini, diperlihatkan pula oleh para pengusaha dengan dalih pembangunan dan pengembangan ekonomi. Mereka berlomba-lomba membangun perumahan pada lereng-lereng gunung yang selama beberapa tahun kondisinya cukup rimbun dengan deretan pohon keras karena tidak terjamah oleh tangan-tangan manusia.


Gambaran tersebut merupakan fenomena kecil dari proses perusakan lingkungan oleh tangan manusia yang berakibat terhadap lahirnya bencana yang menimpa manusia itu sendiri. Rambahan tangan manusia terkait dengan pemuasan syahwat yang mengakibatkan lahirnya kerusakan lingkungan tidak dapat dibiarkan begitu saja, dalam skala kecil sekalipun. Permasalahan tersebut harus dicarikan solusi dan strategi tepat serta komprehensif sehingga kerusakan lingkungan lebih jauh dapat segera ditekan, bahkan dicegah.


Solusi dan antisipasi yang harus secepatnya dilakukan adalah terbangunnya kebersamaan dari setiap unsur terkait dalam mencegah keberlangsungan proses kerusakan lingkungan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan di antaranya dengan menggunakan pendekatan kearifan lokal sebagai bagian dari budaya kehidupan masyarakat. Hal itu bisa dilakukan karena didasari oleh asumsi bahwa setiap masyarakat memiliki kearifan lokal yang telah mengakar menjadi budaya masing-masing.

Keberadaannya telah menjadi pranata kehidupan masyarakat yang menopang keberlangsungan kehidupan mereka hingga saat ini.
Mengacu pada literatur yang ada, kearifan lokal dimaknai sebagai bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat. Kearifan lokal biasanya diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Walau demikian, tidak seluruh kearifan lokal yang dimiliki dapat dipahami dan diimplementasikan oleh generasi penerusnya. Generasi muda kadang terpenjara dengan kata-kata ‘kuno’, ‘kampungan’, atau ‘ketinggalan jaman’ saat diarahkan untuk memahami dan mengimplementasikannya.


Bila melihat perkembangan kehidupan ini, kearifan lokal merupakan warisan budaya yang memiliki nilai luhur dan bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan. Kearifan lokal inilah yang harus digali lalu ditumbuhkembangkan kembali pada setiap generasi muda, sehingga mereka memiliki kebanggaan dengan kepemilikan kearifan lokal yang bernilai positif tersebut.

Kalau dilakukan penggalian kembali, dimungkinkan kita memiliki begitu banyak kearifan lokal yang terkait dengan upaya pelestarian lingkungan. Inilah yang harus dijadikan warisan bermakna bagi generasi masa depan sehingga bisa dijadikan pegangan dan pranata dalam kehidupan mereka pada masa kini dan masa depan.
Selama ini diyakini bahwa suku Baduy merupakan representasi dari suku Sunda yang masih mempertahankan pranata kehidupan tradisonal.

Wilayah yang didiami mereka, jarang sekali didera oleh bencana alam yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan. Kondisi demikian dilatarbelakangi oleh kuatnya masyarakat Baduy dalam memegang teguh pranata kehidupan yang berkenaan dengan pelestarian lingkungan. Sampai saat ini mereka masih memegang teguh falsafah ‘gunung ulah diurug, lebak ulah diruksak, panjang ulah dipotong, pondok ulah disambung. Gawir caian, ranca sawahan, tegal pelakan, leuweung hejo, rahayat bisa ngejo’.


Barangkali, kekuatan pada komitmen yang telah ditunjukkan oleh suku Baduy dalam upaya melestarikan lingkungan hidup ini harus menjadi teladan bagi kita semua. Bahkan, keteguhan terhadap komitmen tersebut harus ditularkan pada masyarakat kita, terutama generasi muda.

Dengan demikian, keberlangsungan kerusakan lingkungan hidup dapat serta-merta ditekan dan dicegah.
Kebijakan pemberian penguatan pemahaman akan kearifan lokal terhadap masyarakat harus dilakukan bersama oleh berbagai pemangku kepentingan. Upaya penguatan ini tidak dapat dilakukan oleh satu atau dua lembaga semata, tetapi harus dilakukan bersama-sama sehingga hasilnya akan lebih optimal.


Dalam konteks ini, pendidikan merupakan ranah yang bisa berkontribusi terhadap upaya pencegahan kerusakan lingkungan dengan memanfaatkan kearifan lokal sebagai dasar penguatnya. Pendidikan dapat diperankan dalam upaya penumbuhkembangan pemahaman komprehensif akan kearifan lokal terhadap setiap siswa sekolah/madrasah. Berbagai strategi dapat diterapkan dalam program kurikuler yang diselenggarakannya.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan dalam ranah pendidikan adalah melakukan insersi materi kearifan lokal pada mata pelajaran yang memungkinkan, di antaranya mata pelajaran seni dan budaya atau mata pelajaran lainnya.


Langkah yang mungkin diterapkan pada ranah pendidikan ini tidak akan berarti apa-apa ketika tidak didukung pula oleh pemangku kepentingan lainnya. Treatment yang dilakukan pada ranah pendidikan hanyalah sebatas memberi pemahaman dan penumbuhkembangan kearifan lokal kepada setiap siswa sebagai generasi masa depan. Sedangkan upaya lain yang dibutuhkan adalah pemberian pemahaman dan penumbuhkembangan kearifan lokal kepada masyarakat oleh para pemangku kepentingan lainnya.


Simpulan :
Kehidupan manusia tidak terlepas dari peran budaya dan keyakinan masyarakat dalam mengelola lingkungan yang menjadi tempat mereka berkehidupan. Kearifan akan pengelolaan lingkungan hidup menjadi salah satu faktor yang memosisikan mereka untuk tetap dapat survive dalam kehidupan hingga saat ini. Berkaca atas fenomena keberlangsungan kehidupan kehidupan masyarakat tersebut, penumbuhkembangan kearifan lokal sebagai faktor penopang kehidupan harus terus dilakukan dalam berbagai lini kehidupan.


Kebijakan pemberian penguatan pemahaman tentang kearifan lokal terhadap masyarakat harus dilakukan bersama oleh para pemangku kepentingan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemeranan ranah pendidikan dalam implementasi kurikulernya. Tentunya, upaya penguatan ini tidak dapat dilakukan oleh ranah pendidikan semata, tetapi harus pula dilakukan oleh pemangku kepentingan lainnya, sehingga hasil yang dicapai akan lebih optimal.****

Narasumber Pewarta : DasARSS IiNews Jabar . Editor Red : Liesna Ega.

Infoindonesianews.com | Kamis, 16 Desember 2021.

NGAMPRAH, BANDUNG BARAT | Menindaklanjuti kerja sama antara Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat dengan UPI melalui Matching Fund VCLDN-TVUPI, sebanyak tujuh guru jenjang TK, SD, dan SMP dari Kab. Bandung Barat lakukan pengambilan video pembelajaran. Dari pengambilan video tersebut, hasilnya akan ditayangkan pada TV-UPI. Kegiatan dilaksanakan di Studio TV-UPI, Kamis, (16/12/21).


Ketujuhnya merupakan guru-guru yang pernah mengikuti workshop bersama tim Matching Fund VCLDN-TVUPI beberapa waktu lalu. Mereka pernah menjadi peserta dalam Workshop Review Produk Konten Standar Industri.

Kegiatan yang mengarah pada pelatihan pembuatan video pembelajaran bagi guru-guru dari kabupaten/kota tersebut merupakan bagian dari kerja sama dalam program Matching Fund VCLDN-TVUPI.


Menengarai keterlibatan para guru di Kab. Bandung Barat dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan, Asep Dendih melalui Kabid PSD, Dadang A. Sapardan memberikan apresiasi yang kepada para guru yang terlibat. Dengan kegiatan yang diikuti tersebut, mereka diharapkan memiliki pengalaman nyata terkait proses pembuatan video pembelajaran.

Selanjutnya, pengetahuan yang diperoleh dapat disebarkan pada guru-guru lain di Kab. Bandung Barat.


“Mereka diharapkan memiliki pengalaman terkait proses pembuatan video pembelajaran sehingga dapat disebarkan pada guru-guru lain di Kab. Bandung Barat,” ujarnya.


Bagi Dinas Pendidikan, kerja sama yang dibangun melalui program Matching Fund VCDLN-TVUPI merupakan upaya yang akan sangat bermanfaat bagi perkembangan pendidikan di Kab. Bandung Barat.

Dalam era digitalisasi ini, para guru dituntut untuk mampu berinovasi dan berkreasi dalam pelayanan pembelajaran terhadap siswanya. Kerja sama yang dilakukan merupakan upaya Dinas Pendidikan untuk menstimulasi para guru agar terus berkarya di tengah era digital.


“Kerja sama yang dilakukan merupakan upaya kami untuk menstimulasi para guru agar terus berkarya di tengah era digital,” pungkasnya.


Di lain pihak, Unang R. Hidayat, Kasi Kurikulum Dikdas yang mendampingi para guru mengungkapkan bahwa moment ini akan dimanfaatkan untuk membangun sinergitas dengan tim dari Matching Fund VCDLN-TVUPI, sehingga ke depan pihaknya dapat memanfaatkan tim tersebut untuk menjadi fasilitator bagi para guru dalam pembuatan konten video pembelajaran.

Dalam era digital, kemampuan guru harus terus ditingkatkan, terutama dalam memfasilitasi proses pembelajaran di kelas. Sudah bukan jamannya, guru hanya mampu melaksanakan pembelajaran tatap muka semata.


“Dalam era digital, kemampuan guru harus terus ditingkatkan, terutama dalam memfasilitasi proses pembelajaran di kelas,” ungkap Unang R. Hidayat di sela-sela pelaksanaan kegiatan.

Narasumber : Dadang A Sapardan. Pewarta : DasARSS IiNews Jabar . Editor Red : Liesna Ega.

Infoindonesianews.com | Rabu, 8 Desember 2021.


Ngamprah,Bandung Barat | Penguatan kompetensi literasi harus terus dibangun oleh berbagai stakeholder. Untuk sampai pada tampilan masyarakat literat tidak saja mengandalkan satu atau dua stakeholder, tetapi harus dilakukan dengan gotong royong dari seluruh stakeholder yang bersinggungan dengan tampilan masyarakat literat.


“Penguatan kompetensi literasi harus terus dibangun oleh berbagai stakeholder,” ungkap Dadang A. Sapardan di depan para peserta Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca, Rabu (8/12/21).


Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula bahwa keterbangunan literasi masyarakat tidak bisa berlangsung begitu saja, tanpa dukungan berbagai stakeholder. Karena itu, seluruh stakeholder harus membangun kebersamaan untuk bergotong royong.

Para stakeholder harus duduk satu meja untuk terus mengimplementasikan literasi masyarakat.
Dalam sosialisasi yang juga diisi oleh narasumber dari Dispusipda Jabar, Oom Nurohmah serta Dosen Unpad, Asep Saepurohkman disampaikan pula bahwa untuk mendorong masyarakat agar dapat menjadi sosok literasi, berbagai sektor harus dilibatkan.

Bukan sesuatu yang tidak mungkin berbagai lembaga yang ada di tengah masyarakat, dimanfaatkan menjadi titik pendorong literasi. Potensi kantor kecamatan, kantor desa, bahkan sekretariat DKM bisa dijadikan titik pelayanan perpustakaan. Pemerintah daerah melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan dapat berkontribusi menyediakan berbagai buku dan pelatihan pengelolaannya.


“Bukan sesuatu yang tidak mungkin, para stakeholder memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mendorong lahirnya masyarakat literat,” ungkapnya.


Pada akhir sesi kegiatan yang diselenggarakan Dinas Arsip dan Perpustakan Kab. Bandung Barat, Dadang menyampikan bahwa dalam konteks Gerakan Literasi Nasional, yang harus dilakukan adalah mendorong literasi sekolah, literasi keluarga, dan literasi masyarakat.

Untuk mendorong literasi sekolah pada satuan pendidikan, Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat sudah beberapa tahun ke belakang menggulirkan program penguatan literasi melalui GLS Mekar KBB. Keberlangsungan program ini selalu mendapat respons positif dari kalangan siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan karena menjadi ajang stimulasi untuk mengonsumsi buku dan bahan bacaan lainnya.


“Pada tataran literasi sekolah, berbagai program literasi sudah dilaksanakan melalui GLS Mekar KBB,” paparnya.

Narasumber Pewarta : DasARSS IiNews Jabar. Editor Red : Liesna Ega.

Infoindonesianews.com | Senin, 15 November 2021.

ACEH |Walikota Subulussalam H.Affan Alfian melalui Kadisdibud Kota Subulussalam mutasi 4 (empat) Kepala Sekolah SD dan SMP bertempat diruang Kadisdik, Senin (15/11/2021) sore dini hari.

H. Sairun, S.Ag Kepala Dinas Pendidikan kota Subulussalam menjelaskan, bahwa “mutasi pergantian Kepala Sekolah ini terjadi, akibat pengunduran diri dari kepala sekolah yang lama, karena ada alasan tertentu dan ada yang diganti karena hasil Evaluasi,”ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama Kadis juga memberikan arahan kepada Kepala Sekolah yang dilantik,karena “Kepala sekolah yg dilantik harus peka dengan perkembangan dunia pendidikan terkini, tanggung jawab Kita adalah melahirkan generasi yang berilmu dan bertaqwa, itu adalah tuntutan mutlak Kita semua,”ujarnya.

Berbuatlah dan bekerja sungguh-sungguh, karena tidak tertutup kemungkinan apabila menjadi Kepala Sekolah nanti ,pasti akan berujung kepada Evaluasi dari Dinas Pendidikan,” tambahnya.

“Saat ini Kamipun akan mengajak berfikir, apakah yang harus dan akan Kita lakukan untuk pendidikan Kota Subulussalam ,dan salah kalau saat ini berfikir apa yang saya dapatkan dari sekolah. Dengarkan semua kritikan dari Masyarakat , kalau itu baik ,sekalipun itu datang dari orang yang dianggap bodoh ,dan mengabaikan kritikannya, itu semua hanya akan membuly Kita semua, sekalipun itu datang dari orang yang dianggap pintar,” ujar Kadisdik memotivasi.

” ketahuilah bahwa Kita rakyat yang lahir dari sebuah Bangsa Pejuang, dengan segala keterbatasan yang akan di hadapi, dilapangan semangatmu adalah senjataku, pekikkan suaramu membangun sekolahmu, bina Anak-anak mu ,agar lahir menjadi generasi yang berakhlak,”pesannya.

” bangun koordinasi yang baik dengan para Guru-guru di sekolah mu, ingatlah saudaraku ,Kita kuat karena bersatu Kita berhasil karena Kita bersama,”tegasnya.

“Jaga nama baik Instansi mu, makmurkan sekolahmu dengan pendekatan keagamaan, fungsikan Musalla di sekolah mu untuk membina anak di lingkunganmu, hari ini orang tua butuh anaknya pintar dan taat beragama,”pungkasnya.

Kepala sekolah yang di lantik antara lain : Kartina, S.Pdi Kepsek SDN Binanga. Dekamisan, S.Pd Kepsek SDN Dah. Bahari, S.Pd Kepsek SMPN 1 Sultan Daulat. Suryadi Kepsek SMPN 3 Rundeng.

Narasumber Pewarta : Sabirin Siahaan,IiNews Aceh. Editor Red IiNews : Liesna Ega.

Infoindonesianews.com | Jum’at , 12 November 2021.

Keterangan foto : Plt Bupati Bandung Barat Hengky saat Bekali para Calon Kepala Sekolah. (Foto: Budi Ruhiat)

PADALARANG , BANDUNG BARAT | Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bandung Barat, Hengki Kurniawan, memberikan pembekalan kepada para Calon Kepala Sekolah (CKS) jenjang SD dan SMP yang sedang mengikuti Pendidikan dan Latihan (Diklat).  Kegiatan yang juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan KBB dan jajarannya, serta Kepala LPMP Jawa Barat tersebut, berlansung di Gedung LPMP Jawa Barat Jl. Raya Batujajar KM 2 Laksana Mekar, Padalarang, Kamis (11/11/21).

Dalam sambutannya, Henki Kurniawan menyampaikan kegiatan Diklat CKS di atas merupakan salah satu upaya dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul di bidang pendidikan. Menurutnya, hal ini sangat penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan yang nantinya diharapkan akan mampu melahirkan generasi emas yang sangat diharapkan semua pihak.

“Bandung Barat mempunya mimpi pada tahun 2024 mencapai nol persen kemiskinan, dan pada tahun 2030 terwujudnya Bandung Barat yang sejahtera. Oleh karena itu, Diklat CKS ini merupakan salah satu upaya dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang akan membantu mewujudkannya. Sehingga, selain akan meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan, juga akan mampu melahirkan generasi emas yang sangat kita harapkan,” ujarnya.

Lebih jauh disampaikan, pihaknya mengharapkan kegiatan di atas akan melahirkan insan-insan inspiratif yang akan mewarnai dunia pendidikan. Oleh karena itu, pihaknya telah menyiapkan sejumlah program untuk memfasilitasi hal tersebut, seperti mencanangkan 100 persen vaksinasi bagi masyarakat Bandung Barat di akhir 2021, terutama warga sekolah, dan seluruh wilayah akan terjangkau internet pada 2022.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Bandung Barat, Asep Dendih, dalam laporannya menyampaikan kegiatan Diklat yang didanai oleh ABPD di atas, diikuti oleh 138 CKS yang terdiri dari 28 orang jenjang SMP dan 110 jenjang SD. Dalam penyelenggaraannya, pihaknya menggandeng LPMP Jawa Barat dan Lembaga Pemberdayaan dan Pengembangan Kepala Sekolah (LP2KS).

“Diklat CKS ini diikuti oleh 138 peserta, terdiri dari 28 jenjang SMP dan 110 jenjang SD. Kegiatan ini didanai oleh ABPD dengan menggandeng LPMP Jawa Barat dan LP2KS.  Semoga kegiatan ini akan melahirkan para kepala sekolah yang terlatih dan kompeten, sehingga nantinya juga akan mampu mencetak generasi yang berkualitas,” ungkapnya.

Di kesempatan terpisah, Kepala LPMP Jawa Barat, Gusmayadi M., mengapresiasi kehadiran Plt. Bupati Bandung Barat di kegiatan Diklat CKS. Menurutnya, hal ini dapat memotivasi para peserta dalam mengimplementasikan sejumlah harapan untuk pendidikan Bandung Barat yang lebih baik.

“Terima kasih kepada Bapak Bupati Bandung Barat yang telah berkenan hadir dan memberikan pembekalan di kegiatan Diklat CKS yang terselenggara berkat kerja sama dengan Disdik Bandung Barat ini. Hal ini akan memotivasi para peserta dalam mengikuti rangkaian kegiatan Diklat, dan mewujudkan harapan menuju pendidikan Bandung Barat yang lebih baik ke depannya,” imbuhnya.

Di sisi lain, salah satu peserta  Diklat CKS dari SMPN 1 Gununghalu, Ujang Rahmat Slamet,  menyampaikan materi pembekalan yang disampaikan Plt. Bupati Bandung Barat memotivasi diri dan rekan-rekannya untuk mewujudkan pendidikan Bandung Barat yang maju dan berkualitas. Menurutnya, hal ini akan diinternalisasikan saat memimpin satuan pendidikan nanti dalam upaya mewujudkan generasi yang unggul, berkarakter, mandiri, inovatif, kritis, dan kreatif.***

Narasumber : Budi Ruhiat. Penulis : Adhyatnika Geusan Ulun. Pewarta : DaSsar IiNews Jabar.

Infoindonesianews.com | Minggu, 7 November 2021.

OPINI


BANDUNG BARAT | Melalui kewenangan yang dimilikinya, Kemendikbudristek melahirkan berbagai kebijakan strategis dalam pengelolaan pendidikan di negeri ini. Salah satu kebijakan yang menjadi bagian dari merdeka belajar adalah pelaksanaan Asesmen Nasional (AN).

Kebijakan ini merupakan strategi yang diterapkan oleh Kemendikbudrustek untuk melakukan akselerasi mutu pendidikan pada semua jenjang pendidikan. Sebagai sandaran dari penerapan AN, Kemendikbudristek menerbitkan Permendikbudristek Nomor 17 Tahun 2021 tentang Asesmen Nasional.


Pada awalnya tidak kurang dari empat konsep yang digulirkan melalui gerbong merdeka belajar oleh Kemenristekdikti.

Pertama, mengembalikan kewenangan ujian/penilaian pada sekolah dan guru.

Kedua, menghentikan pelaksanaan Ujian Nasional dan menggantinya dengan Asesmen Nasional yang formulasi pelaksanaan berbeda sekali.

Ketiga, menyederhanakan RPP agar lebih berfokus pada pembelajaran dan penilaian peserta didik secara holistik.

Keempat, menerapkan sistem zonasi pada pelaksanaan PPDB, sehingga lebih luwes dan berkeadilan.
Asesmen Nasional (AN) merupakan langkah kebijakan Kemendikbudristek yang dianggap strategis dengan salah satu targetnya mendongkrak capaian mutu pendidikan pada setiap satuan pendidikan.

Selama ini, capaian mutu pendidikan Indonesia masih belum memuaskan para pemangku kebijakan. Berbagai kebijakan yang diterapkan belum dapat menghasilkan capaian mutu sesuai dengan harapan.


Salah satu indikator yang menggambarkan belum tingginya capaian mutu pendidikan dilihat pada posisi Indonesia dalam capaian score Programme for International Student Assessment (PISA). PISA yang adalah program Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang merupaka langkah untuk mengukur kemampuan peserta didik pada jenjang pendidikan menengah.

Selama ini, capaian score PISA merupakan indikator yang merefleksikan keberhasilan pengelolaan pendidikan dan menjadi rujukan sebagian besar negara tentang penerapan konsep pendidikan yang diterapkannya masing-masing. Pengukuran PISA dilakukan sebagai evaluasi terhadap kinerja peserta didik pada jenjang pendidikan menengah, terutama terhadap tiga bidang utama, yaitu matematika, sains, dan literasi.


Muatan Capaian Mutu
Melalui pelaksanaan AN, berbagai pemangku kepentingan diharapkan memiliki base line, memiliki peta mutu yang menggambarkan kondisi otentik pendidikan. Dengan berbekal peta mutu tersebut, pemangku kepentingan pada satuan pendidikan dapat memiliki dasar penetapan kebijakan lanjutan untuk melakukan upaya peningkatan mutu.

Langkah tersebut tentunya harus didukung pula oleh para pemangku kepentingan lainnya , pemerintah daerah dan kementerian ,guna melakukan intervensi terhadap berbagai elemen yang dipandang masih memiliki kelemahan.
Pendidikan bermutu dimaknai bahwa proses pendidikan harus mampu meningkatkan hasil belajar setiap peserta didik dalam bentuk ketercapaian kompetensi kognitif maupun non-kognitif.

Dengan demikian, setiap peserta didik memiliki kesiapan kepemilikan kompetensi yang dapat dijadikan modal dasar mereka dalam bersaing dalam kehidupan global. Kepemilikan kompetensi ini harus mengarah pada tampilan perilaku yang didasari oleh prinsip-prinsip positif. Dalam konteks ke-Indonesia-an, hasil belajar yang menjadi tujuan utama pelaksanaan pembelajaran ini dirumuskan dalam konsep profil pelajar Pancasila.


Merujuk pada visi pendidikan Indonesia sebagai tujuan yang harus dicapai oleh ranah pendidikan, secara eksplisit terungkap bahwa proses pendidikan mengarah pada upaya mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebhinekaan global.


Pada pelaksanaannya, AN mengeksplorasi kompetensi kognitif (literasi dan numerasi), kompetensi non-kognitif (karakter), serta mengukur kualitas lingkungan belajar pada satuan pendidikan. Ketiga unsur tersebutlah yang menjadi core pengukuran pada pelaksanaan AN. Asesmen kompetensi literasi diharapkan akan dapat mendorong kemampuan untuk bernalar tentang bahasa sekaligus dengan penggunaannya. Asesmen kompetensi numerasi merupakan upaya yang dilakukan untuk mendorong kemampuan bernalar dalam bidang matematika atau perhitungan.

Survei karakter merupakan langkah yang dilakukan untuk mendongkrak terbangunnya karakter positif yang tersurat dalam profil pelajar Pancasila. Survei lingkungan belajar mengarah pada pantauan mutu lingkungan belajar yang mencakup iklim keamanan, iklim inklusifitas dan kebhinekaan, serta pelaksanaan proses pembelajaran pada satuan pendidikan.


AN tidak melibatkan peserta didik semata, tetapi melibatkan pendidik dan kepala satuan pendidikan. Peserta didik yang terlibat pada pelaksanaan AN bukanlah seluruh peserta didik, seperti halnya dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN), tetapi perwakilan peserta didik saja yang penetapannya ditentukan oleh Kemendikbudristek secara acak/random. Dalam konteks ini tidak semua peserta didik dapat ikut serta dalam pelaksanaan AN di satuan pendidikan masing-masing.


Dengan pemilihannya, peserta AN secara random ini tidak mengandung arti bahwa peserta didik yang menjadi peserta AN merupakan peserta didik unggulan dan peserta didik yang tidak diikutsertakan merupakan peserta didik non-unggulan. Penentuan peserta didik pelaksana AN tidak mengarah ke pandangan demikian. Penentuan peserta AN menjadi kewenangan Kemendikbudristek melalui pemilihan secara random yang ditentukan dengan sistem tertentu.


Dalam kaitan dengan materi yang harus dihadapi, kemampuan dan pandangan peserta didik akan dieksplorasi pada elemen kompetensi kognitif literasi dan numerasi), kompetensi non-kognitif (karakter), serta pandangan tentang kualitas lingkungan belajar pada satuan pendidikan. Lain halnya dengan pendidik dan kepala satuan pendidikan, mereka akan dieksplorasi terkait dengan pandangannya tentang kualitas lingkungan belajar pada satuan pendidikan.


Pada pelaksanaannya, AN memiliki perbedaan mendasar dengan pelaksanaan UN. Selama ini, UN diikuti oleh seluruh peserta didik pada ujung dari jenjang pendidikan yang dienyamnya, sehingga UN menjadi simpul dari kebijakan pembelajaran yang diikuti oleh peserta didik dengan hasil UN sebagai refleksi mutu mereka secara personal. Sedangkan AN dilaksanakan oleh perwakilan peserta didik saat kelas pertengahan pada setiap jenjangnya kelas 5, kelas 8, dan kelas 11.


Pelaksanaan pada pertengahan jenjang pendidikan tersebut mengarah pada dua harapan. Sesuai dengan substansi pelaksanaannya, AN yang dilakukan dapat dijadikan data otentik oleh para pemangku kepentingan dalam upaya perbaikan mutu pembelajaran. Untuk sekolah, hasil AN dapat dijadikan dasar perbaikan mutu pembelajaran yang dilaksanakannya.

Demikian pula untuk dinas pendidikan kementerian, dan para pemangku kepentingan lainnya, hasil AN dapat digunakan guna penetapan kebijakan intervensi dalam mendongkrak mutu pembelajaran pada seluruh satuan pendidikan. Selain itu, pelaksanaan di pertengahan jenjang pendidikan ini dimaksudkan guna menghindarkan diri dari pemanfaatan hasil AN untuk dasar seleksi peserta didik dalam melanjutkan pada jenjang pendidikan lebih tinggi.


Simpulan :
Langkah mendorong pendidikan bermutu terus dilakukan oleh berbagai pihak dengan Kemendikbudristek sebagai leader-nya. Dalam kebijakan kekinian, salah satu upaya yang menuju ke arah itu adalah penerapan kebijakan pelaksanaan AN.

AN diharapkan menjadi tool yang dapat menyajikan data otentik tentang peta mutu dari setiap satuan pendidikan. Melalui kepemilikan peta tersebut, intervensi oleh para pihak pemangku kepentingan dapat dilakukan terhadap sisi lemah yang dimiliki oleh setiap satuan pendidikan.


Pendidikan bermutu dimaknai bahwa proses pendidikan harus mampu meningkatkan hasil belajar setiap peserta didik dalam bentuk ketercapaian kompetensi kognitif maupun non-kognitif.

Setiap peserta didik memiliki kesiapan kepemilikan kompetensi dimaksud sehingga dapat dijadikan modal dasar mereka dalam bersaing dalam kehidupan global.

Kepemilikan kompetensi tersebut mengarah pada tampilan perilaku yang didasari oleh prinsip-prinsip seperti dirumuskan dalam konsep profil pelajar Pancasila. ****

Keterangan Foto :
Dadang A. Sapardan
(Kepala Bidang Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Narasumber : Disdikkbb Bidang Pembinaan SD, Kab. Bandung Barat. Pewarta : DasARSS IiNews Jabar. Editor Red IiNews : Liesna Ega.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.