BPNT Di Kota Palopo E-warong Di Jadikan Penitipan Barang

oleh -57 views

Infoindonesianews. Com

Jakarta, (22/10/2019) Tahun lalu Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin (Ditjen PFM) Andi ZA Dulung mengatakan bahwa Kementerian Sosial akan menambah jumlah bantuan, dalam program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) pada tahun 2020.

“Target tahun 2020 berupa penambahan jumlah BPNT dari Rp110 ribu menjadi Rp150 ribu, dengan menambahkan kebutuhan pokok lainnya. Tidak hanya beras dan telur,” ujar Andi dihadapan 373 peserta Bimbingan Pemantapan Pendamping Sosial Bantuan Sosial Pangan Tahun 2019 di The Rich Hotel Yogyakarta

Dalam acara tersebut peserta yang hadir terdiri atas Kepala Dinas Sosial Provinsi sebanyak 11 orang, Supervisor Kabupaten/Kota 181 orang, dan Koordinator Tenaga Kesejahterahan Sosial (Korteks) 181 orang.

Dalam Acara tersebut diselenggarakan agar peserta memahami pelaksanaan BPNT, memantau, mengevaluasi, dan membuat laporan pelaksanaan bantuan dengan baik dan benar.

Dalam meningkatkan kualitas BPNT, Kemensos menggelar survei perihal bahan pangan tambahan bagi KPM. Survei telah dilakukan di sejumlah daerah, diantaranya Maros, Makassar, dan Jeneponto.

Dari survei tersebut, BPNT pada 2020 akan ditambahkan pangan bernutrisi, yaitu mencakup karbohidrat, protein, dan tambahan makanan pendamping ASI dalam rangka menurunkan angka kekurangan gizi dan stunting.

Lain halnya dengan penyaluran BPNT yang ada di Kota Palopo, Provinsi Sul-Sel (Sulawesi-Selatan), yang di mana penyaluran BPNT tidak sesuai dengan, apa yang di harapkan oleh Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin (Ditjen PFM) Andi ZA Dulung.

Dalam kunjungan Team BNP dan Media Infoindonesianews di Kota Palopo Sabtu (29/02/2020), mendapat beberapa keluhan dari KPM (Keluarga Penerima Manfaat) Kota Palopo, mengenai penyaluran BPNT yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh KPM (Keluarga Penerima Manfaat) Kota Palopo, dalam hal ini di sampaikan oleh beberapa agen e-warong yang di kunjungi oleh Team BNP dan Media Infoindonesianews.

“Semenjak ada BPNT yang dimulai sejak tahun 2017 sampai sekarang kami selaku agen e-warong hanya di tempat memulai barang oleh Suplayer”, harga yang diberikan suplayer ke e-warung sama dengan harga mahal di harga eceran dipasar. Kata salah satu agen e-warong yang ada di Kecamatan bara, Kota Palopo, Provinsi Sul-Sel (Sulawesi-Selatan)

Sementara itu tugas Warung elekronik gotong royong (e-warong) yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam menyalurkan bantuan sosial (bansos) non tunai bagi warga tidak mampu, tidak sejalan dengan sistemnya.

Yang di mana seharusnya setiap bantuan sosial dan subsidi akan disalurkan secara non tunai menggunakan sistem perbankan. Tujuannya untuk mengurangi penyimpangan, kemudahan kontrol serta tepat sasaran, waktu dan jumlah.

Namun BPNT yang di harapkan itu tidak sesuai di Kota Palopo, seperti bantuan beras yang di datangkan dari suplayer adalah beras yang sebenarnya tak layak di perjual belikan kepada KPM, karena beras tersebut bukan jenis beras kepala

Dalam hal ini di perjelas lagi oleh salah satu, agen e-warong yang di kunjungi oleh Team BNP,” sebenarnya beras ini tak layak di perjual belikan, karena ini bukan beras kepala, dan banyak KPM yang datang ke saya menunjukkan kesaya, kenapa beras dari suplayer agak kecokelatan dan masih banyak padinya padahal karung berasnya berlogo bulog”.

Sementara suplayer BPNT kota palopo diklarifikasi via telp tentang harga suplayer yang menjual dengan harga eceran mengatakan tidak bisa menjelaskan harus berkoordinasi dulu dengan koord daerah, karna ada team.

Kemudian team berkunjung ke gudang bulog dan sempat bertemu dengan salah satu petugas dimana dalam pernyataannya bahwa harga beras jenis tersebut dikisaran Rp 8100/liter sampai 8500/ liter sementara menurut salah e-warung yang dikunjungi mengatakan dr suplier harga per liter Rp 10.000 . Begitupun dengan telur suplier menjual perbiji Rp 2000 sementara harga Suplier biasa hanya 40 ribuan per rak.

Rafli-iinews/askar-BNP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.